Traveler Atau Backpacker? Istilah Ini Sering Menyebabkan Kelirulogi

0
1769
foto: ist

OnWeekend – Tiara, mahasiswi semester akhir gembira bukan alang kepalang membayangkan bonus kelulusan sarjana yang ditawarkan ayahnya. Jalan-jalan keliling negara-negara ASEAN, menggiurkan, bukan? Sejak itu pikirannya terbelah. Tiara bukan main sibuk merancang perjalanannya selama tiga pekan, melebihi bab akhir skripsinya sendiri.

Kepada teman-temannya dia menceritakan kabar gembira itu seraya membaptis bahwa dirinya adalah calon backpacker tersohor. Tak lama kemudian persiapannya rampung. Tiket pesawat, hotel berbintang di Singapura sampai Viantiane, tiket masuk Universal Studio, paket kapal pesiar sudah dia pastikan. Tak ketinggalan, Tiara membuat sebuah travel blog untuk berbagi pengalaman dengan judul Backpacker’s Life.

Orang-orang sekarang telah meninggalkan istilah wisatawan, pelancong, bahkan turis untuk menggantinya dengan traveler atau backpacker. Penggunaan diksi british ini mungkin terdengar lebih kece dan kekinian. Tetapi dua kata itu tidaklah bermakna sama. Bagaimana semestinya ia digunakan?

Membahas bahasa tentu kurang afdol tanpa melibatkan kamus. Merriam-Webster Dictionary, salah satu kamus bahasa Inggris tertua mendefinisikan traveler sebagai orang yang melakukan kegiatan pergi berpindah tempat dari satu ke daerah lain, termasuk menetap di suatu tempat dalam jangka waktu lama. Dalam istilah yang lebih umum, travel diartikan perjalanan, sedangkan traveler berarti orang yang melakukan perjalanan.

Travel dan traveler mempunyai arti yang lebih universal, tidak membedakan dengan pengecualian apa pun. Maka dikenal pula istilah business travel, holiday travel, study travel. Di Indonesia ketika kata ‘travel’ sudah diserap, muncul penggunaan kata dalam istilah industri pariwisatatour and travel atau wisata dan perjalanan. Travel di sini identik dengan penjualan tiket pesawat, bus maupun kamar hotel. Sementara tour diartikan sebagai penjualan paket wisata.

Merriam-Webster Dictionary tidak mengenal kata ‘backpacker,’ jadi diksi ini bisa dianggap baru ada belakangan.  Namun kamus yang sudah ada sejak 1828 ini mencatat ‘backpack’ sebagai tas dengan dua tali yang dibawa dengan cara digendong di belakang punggung. Penambahan atau perubahan bahasa merupakan hal yang lumrah seiring pergeseran waktu dan budaya.

Adapun Cambridge Dictionary mengartikan backpacker adalah orang yang bepergian menggunakan ransel. Backpack atau ransel adalah model tas yang sudah lama dikenal. Militer setidaknya menjadi kelompok yang paling pertama akrab dengan model tas begini. Sebelum Perang Dunia I berkecamuk, serdadu sudah menggemblok ransel untuk menyimpan ransum dan kebutuhan yang lain. Indonesia masih bergantung pada istilah non serapan ‘backpacker,’ meskipun sebenarnya bisa saja dialihbahasakan menjadi peransel, sebagaimana traveler juga bisa diucapkan dengan kata pejalan.

Istilah backpacker kemudian populer ketika sudah menjadi tren. Backpacker membentuk identitasnya sendiri. Kelompok ini identik dengan perjalanan berlibur. Lalu identifikasi itu menjadi panjang buntutnya. Backpacker bukan sekadar orang yang berlibur membawa ransel.

Australia merupakan negara yang serius menyikapi fenomena backpacker, sebab jumlah wisatawan Australia termasuk yang tertinggi di dunia. Ledakan backpacker sudah terjadi di benua kanguru itu sebelum tahun 2000. Dan memang tidak bisa dipungkiri, backpacker tidak bisa disamakan lagi dengan istilah traveler.

Tourism Western Australia pada 2007 menerbitkan hasil riset tentang backpacker. Publikasi itu memuat ketentuan-ketentuan dan definisi backpacker, yaitu: mengutamakan akomodasi yang ekonomis, senang berinteraksi dengan penduduk lokal atau komunitas traveler yang lain, pergi tanpa menggunakan agen tur dan punya jadwal yang fleksibel, masa berlibur lebih lama, dan cara berlibur yang di luar kebiasaan.

Bukan itu saja, berdasarkan riset tersebut karakteristik backpacker pun ditentukan, antara lain berusia muda (20-35 tahun), tertarik pada kegiatan adventure dan ekoturisme, lebih suka menggunakan transportasi bus, berpendidikan, terkadang mereka bekerja selama kurun waktu tertentu di tempat tujuannya.

Hasil riset tersebut setidaknya memberi jawaban, mengapa backpacker lebih ketat dalam hal anggaran. Sebab durasi mereka berlibur lebih lama daripada traveler kebanyakan. Bagi backpacker, akomodasi dan fasilitas yang nyaman bukanlah prioritas. Tidak ada masalah dengan waktu, bahkan kalau-kalau kocek menipis di tengah jalan juga bukan petaka.

Dalam tahap lanjut, ada perbedaan cara pandang yang cukup tajam, terutama dari kacamata backpacker. Kelompok ini beranggapan turisme itu sebuah kegiatan yang aneh. Gambarannya, satu kelompok turis atau traveler datang ke Bali, menikmati Kuta, Ubud, dan Tanah Lot. Setelah itu belanja kemudian pulang. Sedangkan backpacker berinteraksi dengan masyarakat lokal, mencoba makanan dan hal-hal yang sama sekali baru, mempelajari bahasa dan adat istiadat, dan lain-lain yang tidak terikat dengan jadwal berlibur.

Nah, kalau sudah begini, kamu termasuk traveler atau backpacker? (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here