“The Hunt”, Tentang Rusaknya Sebuah Solidaritas Kelompok

0
854
The Hunt
Mads Mikkelsen berperan sebagai pengajar dalam film The Hunt

OnWeekend – “Dunia ini penuh dengan kekejaman, tetapi jika kita bersama, kita dapat menghadapinya”. Kutipan tersebut seakan menjelaskan dengan vulgar gambaran tentang satu sisi cerita dalam film yang berjudul The Hunt. Film yang diputar dalam ajang festival Cannes pada tahun 2012 ini berhasil menyajikan gambaran tentang rusaknya sebuah solidaritas kelompok yang tanpa pandang bulu, menyematkan kesalahan kepada siapa yang mereka anggap salah.

The Hunt, setelah disadur ke dalam bahasa inggris dari versi aslinya yaitu Jagten, merupakan film asal Denmark yang disutradarai oleh Thomas Vinterberg dan dibintangi oleh aktor yang sekarang lebih dikenal sebagai Hannibal Lecter dalam film serial TV Hannibal, Mads Mikkelsen.

Film ini menceritakan tentang seorang pengajar sebuah taman kanak-kanak di desa pemburu kecil Denmark. Pengajar tersebut bernama Lucas (Mads Mikkelsen) menghadapi tekanan demi tekanan dalam hidupnya setelah salah satu muridnya yang bernama Klara, dengan sikap kekanakannya menuduh Lucas telah melakukan tindakan pedofil terhadap dirinya. Meski secara hukum atau pun sesuai dengan apa yang diceritakan dalam film ini Lucas tidak bersalah, dia tetap harus menghadapi alienasi dari kelompok masyarakat di tempat tinggalnya.

Pengadilan moral masyarakat berasal dari solidaritas semata

Lucas sebenarnya digambarkan sebagai pribadi yang sempurna, dia memiliki ketulusan yang sangat natural, penyayang serta sangat cocok menjadi pengajar karena mampu membuang sekat antara guru dan murid. Dalam lingkungan sosial pun Lucas menunjukkan, bahwa ia merupakan aset yang sangat berhaga bagi komunitas tersebut. Hal ini ditunjukan oleh beberapa adegan seperti saat diawal film lucas menolong seseorang yang mengalami keram saat berenang disungai yang sangat dingin, padahal saat itu dia malah masih berpakaian lengkap tidak seperti beberapa orang yang sudah melepas pakaian mereka pada saat itu. Singkat cerita dia sangat dicintai baik oleh para sahabatnya maupun penduduk desa.

Akan tetapi semua kecintaan penduduk terhadap Lucas berubah total saat mereka mendengar tentang perlakuan pedofilnya terhadap Klara, seperti yang diceritakan sebelumnya bahwa hal ini sebenarnya tidaklah terjadi. Satu persatu kehidupan bahagia Lucas mulai direnggut paksa dari dirinya, pekerjaan yang dicintainya, anak-anak murid, anjing kesayanganya yang dibunuh oleh orang yang tidak bertanggung jawab serta anak kandungnya sendiripun terancam tidak dapat tinggal denganya karena pengadilan serta mantan istrinya tentu tidak mengijinkan seorang anak kecil tinggal bersama seorang yang dituduh pedofil tersebut.

Penduduk desa tersebut sebenarnya tidak memiliki sebuah bukti yang valid tentang peristiwa pedofilia itu, mereka mengakarkan kebencianya terhadap Lucas hanya berdasar dari pengakuan seorang anak yang sebenarnya menyukai Lukas, namun dalam beberapa moment yang kikuk lantas membuatnya  berbohong dan membenci gurunya itu. Banyak juga dari masyarakat ini yang turut membenci Lukas hanya karena secara natural mereka menunjukkan empati kelompoknya serta masyarakat cenderung tidak menyukai segala hal yang dipandang sebagai tindakan amoral, dimana tanpa perlu melihat kejadian ini benar-benar terjadi atau tidak.

Sesuai dengan apa yang ditulis oleh Daniel M. bartels dalam bukunya yang berjudul Moral Judgement and Decision Making, tulisnya “Moral, didalam perbandinganya, merupakan aturan wajib. Orang-orang cenderung tidak dapat mentolelir segala bentuk kecacatan moral.” Skitsa juga mengunkapkan hal yang senada terkait masalah ini “Ketika masyarakat dihadapkan oleh dua isu moral diantara baik dan buruk, sangat sedikit untuk bisa merubahnya: karena yang buruk akan selalu salah.”

Solidaritas kelompok ini melahirkan tindakan-tindakan yang justu melanggar hukum. Saat hukum masih dalam proses, Lukas sudah diasingkan dari kelompok tanpa dia sendiri mengerti apa yang terjadi, dia dipaksa untuk mengambil cuti kerja. Lucas juga saat terbukti tidak bersalah secara hukum tidak dapat lagi melakukan aktifitasnya seperti biasa, bahkan ia dilarang untuk mengunjungi tempat tertentu atau berbelanja di salah satu pasar disana. Dia diusir dan dianiyaya oleh para pedagang yang dengan pikiran sempit mereka tetap menjustifikasi kesalahan moral orang lain. Anaknya yang bernama Markus pun mengalami tindak kekerasan saat ia membela Ayahnya, dia dipukul oleh salah seorang penduduk desa tersebut.

Perlawanan berbuah manis

Ada hal yang cukup unik dalam film ini, sutradara seakan memberi kesan bahwa setiap persoalan yang kita hadapi, betapapun kerasnya hal tersebut mendera kita, akan selalu ada jalan keluar. Itulah yang terjadi terhadap Lucas, disaat tidak ada hal yang bisa dia pegang kecuali kejujuran dan kebenaran itu sendiri. Lukas tidak diam dan menerima begitu saja segala perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya dari masyrakat tempatnya tinggal.

Dia melawan dan menunjukan bahwa dia tidak bersalah. Perlawanan pertamanya ditunjukkan saat ia bertindak korperatif dengan kepolisian, keberanian dan ketenangan Lucas diuji disini. Hasilnya, polisi melepaskan karena tidak punya cukup bukti untuk meneruskannya ke pengadilan. Inilah kemenangan pertamanya.

Kenapa perlawanan untuk membuat orang lain percaya ini menjadi begitu penting, tak lain disebabkan bahwa permasalahan terkait moralitas dalam masyarakat akan menjadi bias bila fakta sosial dari apa yang sebenarnya terjadi tidak sepenuhnya diketahui oleh masyarakat tersebut. Masyarakat dalam menentukan penilaian atau justifikasinya akan cenderung menjadi objektif jika mengikutsertakan unsur rasionalitasnya. “…Orang-orang merasa bahwa orang lain harus secara luas percaya dengan kepercayaan moralnya atau setidaknya dibuat percaya jika saja mereka tahu tentang “Faktanya”.” Tulis Skitsa.

Perlawanan terakhir Lucas terjadi di situasi yang sangat krusial, waktu yang penuh kekhusuan malam natal dan di tempat yang juga suci yakni sebuah gereja. Dalam hal ini gereja dan malam natal menyimbolkan agama sebagai penjaga moralitas. Banyak yang mungkin mengira bahwa Lucas tidak akan menghadiri misa natal tersebut. Karena tentunya hampir seluruh penduduk membencinya. Dia datang dengan kondisi tubuh masih penuh luka dan kaki yang pincang, dengan air mata yang selalu hadir diantara kedua matanya.

Ketika proses misa berlangsung Lucas membuat gaduh acara itu, seakan memperotes kepada otoritas moral ditempat tersebut. Ia pun menghampiri salah seorang sahabatnya yaitu Theo yang juga ayah dari Klara. Lucas menampar dan memukul Theo setelah sebelumnya mereka berdua saling bertatapan, sebuah tatapan pemberian bahasa isyarat yang hanya dipahamin oleh kedua orang tersebut. Setelah memukul Theo, Lucas sambil menangis berkata kepada sahabatnya itu “Lihat mataku, lihatlah. Apa yang kamu lihat? Apa kamu tahu sesuatu? Apa yang kamu lihat? Tidak ada kan, tidak ada.”

Peristiwa tersebut menggugah diri Theo, yang walaupun tidak diungkapkan secara jelas tapi akhirnya membuat dirinya sadar kalau selama ini Lucas tidak bersalah. Pada malam itupun dia mengunjungi rumah Lucas dan menghidangkannya menu santap malam natal tak lupa dengan sebotol minuman keras sebagai tanda persahabatan mereka belum berakhir.

 

Kontributor: Aditya Permana

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here