Telemark Canal, Surga di Negara Norwegia

0
540
Telemark Canal
Telemark Canal, foto: ist

OnWeekend – Waktu seolah-olah berhenti di Telemark, Norwegia, ketika orang-orang di belahan dunia lain berpacu mencipta dan larut dalam kebaruan. Dari Skien sampai Dalen, 102 kilometer panjangnya, gugusan pohon pinus menandai lembah. Bukan sungai bukan ngarai terjal, tetapi sebuah kanal. Telemark Canal.

Baik orang Norwegia atau Belanda cara berpikirnya tidaklah berbeda. Sama-sama ingin berdagang. Belanda di Hindia membangun jalur kereta api, memangkas gunung, dan menggelar jalan raya demi memuluskan pengangkutan hasil bumi. Begitu pula Norwegia. Kalau pun ada manfaat lain, sambil berlayar sambil menampan.

Norwegia dua abad silam bermasalah dengan jalur pengangkutan di wilayah Telemark. Lembah tiada habis, cuaca dingin, bagaimana membuat jalan aspal. Negeri itu juga tidak punya banyak. Untuk catatan, Telemark adalah rahim permainan ski. Terbayang betapa dingin suhu rata-rata di sana.

Norwegia akhirnya memulai pembangunan kanal pada 1854. Perlu 7 tahun menyelesaikan rute pertama, Skien-Norsjo Lake. Hasilnya cukup bagus, orang-orang tak harus menembus gunung. Proyek pun belanjut hingga Dalen, dan baru resmi dioperasikan pada 1892 oleh Menteri Buruh Hans Hein Theodor Nyson. Sekitar 5 ribu orang bekerja membangun kanal ini.

Begitu pembangunan selesai, orang-orang Eropa segera menjuluki Telemark Canal dengan sebutan Eigth Wonder. Terusan Suez dan Panama tentu saja ajaib, namun keberhasilan Norwegia sangat mengejutkan.

Dimulailah pengangkutan kapal fery. Kaum petani dari pelosok dapat membawa hasil bumi dengan lebih mudah. Keseluruhan, ada 8 rute dan 18 pintu air. Kanal ini juga melewati enam kota yang ada di wilayah Telemark. Sesuai namanya, Telemark Canal. Sama rata sama rasa.

Yang tak kalah menarik dari Telemark Canal ialah gagasan jurnalis Norwegia, Christen Pram yang mengusulkan bahwa pembukaan jalur transportasi air sangat berguna untuk kenyamanan dan keselamatan penduduk setempat. Pram menggagas ide itu pada 1805. Dia meninggal pada 1821 dan sama sekali tak pernah merasakan buah pemikirannya.

Setelah 1,5 abad Telemark Canal masih berfungsi. Bukan untuk angkut barang, tetapi wisata. Rekam jejak Norwegia sebagai welfare state kiranya bisa dilihat dari kanal ini. Di mana-mana sudah ada jalan aspal mulus, namun transportasi warisan tetap dipelihara dengan apik.

Menyusuri Telemark Canal dengan kapal MS Victoria, alat pengangkut yang dibuat pada 1882 atau MS Henrik Ibsen (1908), mungkin seperti mendengar cerita dongeng. Zaman terus berputar, tetapi pemukiman di pinggiran Telemark Kanal tetap bersahaja dalam warna-warni dan hijau. Dan pintu air yang terbuat dari kayu tidak ada yang diganti, masih kokoh dan berfungsi seperti awalnya. Orang-orang tidak akan melupakan suara pintu air Telemark Canal saat dibuka.

Suatu tempat yang wajib disinggahi, sedikitnya sekali seumur hidup. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here