Tak Perlu Lakukan Beberapa Hal Ini Saat Menulis Cerpen

0
491
ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerita pendek, foto: dok

OnWeekend – Cerita pendek atau cerpen merupakan salam satu macam karya prosa baru. Menulis cerpen sering dilakukan banyak orang karena banyak alasan. Sadar atau tidak, cerpen adalah pintu gerbang yang sering di masuki orang menuju dunia kesusastraan. Walaupun sebenaranya ada perbedaan mendasar antara literatur sastra dan populer.

Tidak semua cerpen—bahkan novel, kalau mau membahas lebih jauh—bisa disebut karya sastra. Perbedaan yang paling mencolok ialah penjajakan bahasa yang dilakukan penulis. Namun pada dasarnya unsur-unsur dalam cerpen sastra dan populer itu sama saja.

Cerpen sudah banyak berubah. Jika membuka karya-karya lama, paling tidak setengah abad lalu, kita akan menemukan cerpen ditulis jauh lebih panjang. Bahkan tidak sulit mencari suatu karya ditulis 50 halaman. Model yang seperti itu bertahan sampai periode Pujangga Baru, dan yang terakhir Angkatan 1960an. Lebih kini, cerpen menjelma lebih ringkas. Sebabnya kebutuhan membaca pun berubah.

Walaupun cerpen jauh lebih singkat dari sebelumnya, rupanya tak sedikit yang mengalami kesulitan dalam menulis. Bagaimana pun, pengalaman, pembawaan, dan keuletan tulis-baca menentukan kepiawaian seorang penulis.  Menulis tidak beda dengan bermusik atau melukis.

Terlalu sibuk mencari judul? Padahal baik tidaknya tulisan kamu ditentukan gagasan dan tema, bukan judul

Sebagian penulis sering mengeluh sulitnya mencari judul cerita. Ini bukan suatu hal yang memalukan. Judul itu umpama pagar rumah. Semakin baik, pembaca kian merasa perlu melihat isi rumah. Sayangnya, tidak ada teori tentang judul yang benar-benar pasti. Kamu tidak perlu merasa sendirian, sebab semua penulis pernah mengalami ini. Untuk diingat saja, bukan hanya tulisan yang perlu dibubuhi judul. Demikian karya seni lain seperti lagu, lukisan, sculpture, sampai karya arsitektur.

Judul bisa dipilih dari unsur intrinsik maupun ekstrinsik cerita. Bisa berupa nama karakter atau nama tempat, waktu dan situasi cerita, tema cerita, peristiwsa dalam cerita, sampai premis cerita. Contohnya antara lain “Laila” karya Putu Wijaya, “Kemarau” karya Andrea Hirata, “Bigau” karya Damhuri Muhammad, dan “Ketika Mas Gagah Pergi” karya Helvy Tiana Rosa. Sejauh ini judul cerpen juga bisa berupa tafsir representatif cerita, misalnya cerpen misterius “Langit Makin Mendung” karya Ki Panji Kusmin.

Namun yang utama dari tulisan itu adalah gagasan dan tema, bukannya judul. Beberapa cerpen ternama dari kesusasteraan Tanah Air justru menyematkan judul sekenanya. Sebut saja “Pelajaran Mengarang” milik Seno Gumira Ajidarma dan “SDSB” karangan Putu Wijaya. Kedua cerpen ini mendapat apresiasi yang baik meskipun judulnya ala kadarnya. Sebab, gagasan dan tema yang dituang ke dalam karangan begitu kuat.

Menghabiskan waktu untuk olah ide adalah jauh lebih bermanfaat daripada memusingkan kepala tulisan. Lagi pula, membuat judul lebih dulu sama saja membatasi ruang imajinasi kamu dalam menulis.

Kepalamu inspirasimu, bukan peristiwa aktual

Ini hanya ilustrasi. Belakangan media sosial digunakan untuk tujuan lebih berguna, social movement. Ada seorang kakek tua, Abdur Rauf,  jadi penjual nasi uduk di Rawa Mangun, Jakarta Timur. Seumur hidupnya sepi pelanggan. Kemudian Hafizah Sari, seorang pengguna Facebook mem-posting gerobak nasi uduk Rauf dan menjadi viral. Sehingga, orang-orang pun melarisi nasi uduk tersebut. Kisah ini tentu saja menarik, lantas kamu menulisnya dengan beberapa gubahan. Padahal itu tidak perlu dilakukan.

Penulis punya ide yang tidak terbatas di dalam kepala. Inspirasi boleh-boleh saja datang dari mana pun. Tetapi kalau sampai tergiur menulis ulang atau kecanduan peristiwa aktual, kamu tidak akan bisa menulis. Ide dapat dikupas dari apa dan siapa saja, di mana dan kapan pun. Seekor kecoak bahkan bisa diangkat ke dalam cerita. Semuanya ditentukan oleh keuletan kamu dalam mengasah kemampuan olah ide.

Tidak perlu repot memikirkan gaya penulis lain, sebab tiap penulis dilahirkan dengan style berbeda

Penulis yang baik adalah pembaca yang hebat. Semakin banyak baca, kemampuan menulis pun bertambah kaya. Sesering bagaimana pun kamu mengikuti kelas menulis, keterampilan ini ditentukan oleh latihan dan durasi membaca. Namun jangan sampai terjebak jadi penulis lain. Gaya tulisan adalah hak cipta tersirat milik masing-masing penulis.

Meniru itu pasti dilakukan penulis . Tidak ada cara lain untuk melepaskan kecenderungan meniru kecuali berlatih dan terus membaca.  Penulis mendapatkan gayanya tidak 100 persen alamiah.

Keindahan bahasa bukan penentu kualitas cerita

Cobalah membaca kumpulan cerpen surat kabar atau majalah. Biasanya standar cerpen yang dimuat di media cetak adalah cerpen sastra yang menggunakan standar keindahan bahasa. Namun kalau mau jujur, tidak semua cerpen berbahasa tinggi itu baik. Kualitas cerita itu tidak ditentukan oleh keindahan bahasa.

Berhentilah berpura-pura mencari-cari diksi atau komposisi kalimat yang sebenarnya tidak berasal dari dirimu sendiri. Lihat Hamka, Golagong, Suparto Brata, bahkan sebagian penulis surealis, mereka tidak kehilangan kekuatan cerita meskipun menulis dengan bahasa yang lebih lunak.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here