Tahun 2017 Bumi Akan Kedatangan Komet Penghancur Peradaban?

0
698
Ilustrasi komet, foto: ist

OnWeekend – Pesawat antariksa Rosseta telah mencapai misi terakhirnya setelah 12 tahun. Pada 30 September lalu (30/9), probe milik Badan Antariksa Eropa (ESA) ini telah menabrakkan diri ke komet 67P demi mendapatkan gambar dari dekat. Kurang lebih selama dua tahun, Rosseta telah mengelilingi 67P yang jaraknya jutaan kilometer dari Bumi.

Dari data yang diperoleh Rosseta, dalam susunan komet mengandung sejumlah dasar kehidupan yang dapat mengawali kehidupan baik bagi tempat tinggal umat manusia.

Namun, kabar buruknya, jika komet 67P yang berdiameter 4 kilometer itu menghampiri Bumi, maka akan mengakhiri semua kehidupan umat manusia.

Setelah misi Rosseta berakhir, seperti dikutip dari Ancient Origins (7/10), sejumlah astronom mengungkapkan bahwa sebuah fragmen komet 12P/Pons-Brooks akan mendekat ke Bumi pada Febuari 2017. Secara utuh, komet 12P/Pons-Brooks memiliki lebar 8 kilometer.

12P/Pons-Brooks sendiri awalnya ditemukan astronom Prancis Jean Louis Pons, pada Juli 1812.

Dalam komet terdapat bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan manusia. Salah satu dari bahan-bahan kimia yang berbahaya tersebut adalah Vasopresin. Bahan kimia ini diduga kuat dapat mempengaruhi perilaku manusia menjadi agresif dan keras. Namun, belum diketahui apakah 12P/Pons-Brooks mangdung bahan Vasopresin.

Di Siberia pada tahun 1908, yang dikenal dengan peristiwa Tunguska, sebuah komet yang hanya berdiameter 152 meter diyakini pernah menghantam daerah yang terletak di Rusia itu. Alhasil, ledakan yang setara dengan kekuatan 15 megaton bom itu memporakporandakan  2589 kilometer hutan.

Akan tetapi, Tunguska belum seberapa. Sekitar 3500 tahun yang lalu komet terbesar di jagat raya pernah hampir menabrak di Bumi.

Di tahun ke -22 pada masa Firaun Tuthmosis III berkuasa, masyarakat Mesir mencatat dengan nama catatan Tulli Papyrus,  yang mendeskripsikan komet berbentuk piringan dengan diameter kurang lebih 16 kilometer. Dan, tak hanya masyarakat Mesir yang mencatat peristiwa tersebut.

Astronom China juga pernah mencatatnya. Komet tersebut memiliki 10 ekor. Lebih besar dari hasil temuan astronomi modern, De Cheseaux (1744),  yang mencatat hanya punya tujuh ekor.

Naskah kuno Mesir tersebut dapat kamu temui di perpustakaan Vatikan. Namum sejumlah peneliti meragukan peristiwa besar tersebut.

Peristiwa komet raksasa yang menghampiri Bumi tersebut juga berdampak pada agama-agama yang dianut pada masa itu. Penduduk di muka Bumi mulai menyembah dewa baru yang digambarkan memiliki sayap sampai ke langit.

Pada masa pemerintahan Tuthmosis III, simbol dewa baru tersebut diduga mirip dengan dewa baru di Mesir, Aten. Para ahli Mesir Kuno berasumsi bahwa dewa baru tersebut mirip dengan Dewa Matahari.

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here