Shawshank Redemption: Brooks Dan Kebebasan Yang Gagal

0
449
James Whitmore berperan sebagai Brooks Hatlen dalam film Shawshank Redemption, foto: ist

OnWeekend – Ada banyak hal yang bisa diceritakan dalam film The Shawshank Redemption. Film peringkat pertama di IMDB ini menyimpan segudang pesan yang menarik untuk diceritakan. Sedikit banyak ulasan tentang film ini selalu berangkat dari optimisme atau pesimisme, namun kali ini tidak.

Rumah

Orang menyebut tempat ini adalah muara dari asal dan tujuan, dari sini kita melangkah keluar menghadapi dunia yang tak pernah beres dengan kebrengsekannya, di tempat ini pula, katanya, kita akan melangkahkan kaki kembali, kembali setelah bergulat, jungkir-balik berperang melawan kehidupan di luar sana.

Tempat ini pula yang melahirkan makna dari kata pulang.

Shawshank, film berplot tahun 60an dan diproduksi tahun 1994 ini memutar atau bahkan memberikan gambaran bagaimana makna dari rumah yang tak selalu identik dengan bangunan keluarga konvensional yang dihuni oleh Ibu, Bapak, Anak, Adik, Kakak atau pun saudara lainnya, di film juga ini makna pulang tak selalu akur dengan rumah.

Brooks Hatlen (diperankan James Whitmore), seorang penjahat tua yang sudah dipenjara sejak 1905 dan pada 1921 menjadi pengurus perpustakaan di penjara yang terkenal dengan penghuni yang nyaris seperti monster, setidaknya itulah pandangan masyarakt luar tembok Shawshank. Brooks menghabiskan hampir seluruh hidupnya di dalam penjara “shawshank”, 50 tahun ia hidup di balik tembok dan jeruji, setiap sore mendorong troly berisi buku-buku melewati sel-sel tahanan sembari menawarkan mereka buku-buku tersebut, setiap hari ia melakukan itu, hidup di tengah tumpukan buku dan tentu saja dikurung tembok, juga serapah masyarakat.

"Brooks Was Here" dalam film Shawshank Redemption, foto: ist
“Brooks Was Here” dalam film Shawshank Redemption, foto: ist

Sampai suata saat ia mendengar kabar bahwa ia akan memperoleh kebebasan bersyarat. Ya, Brooks si Penjahat tua penghuni perpustakaan penjara itu akan dibebaskan, tapi yang menarik adalah ia bukannya bersorak selayaknya para pesakitan yang selalu memikirkan kata “bebas” setiap malam, Brooks justru enggan untuk dibebaskan. Ia bahkan hendak menusuk leher salah satu kawannya hanya untuk memperoleh hukuman agar tetap berada di dalam penjara tersebut.

Brooks keluar penjara, mendapati dunia yang lama ia tinggali, dunia yang memandang orang-orang sepertinya adalah sampah, dunia yang begitu tergesa-gesa. Bayangkan, ia dipenjara selama 50 tahun, nyaris seluruh hidupnya dihabiskan di dalam kurungan tembok.

Ketakutan Brooks saat keluar penjara terlihat jelas ketika ia berada di dalam Bus, wajah tua yang ketakutan pada dunia yang katanya lebih beradab. Dari situ terlihat suatu keanehan, Brooks yang notabene adalah narapidana justru ketakutan ketika melihat dunia luar penjara.

Brooks tinggal di sebuah rumah singgah yang biasa ditempati oleh para eks pesakitan, dan bekerja sebagai tukang kemas belanjaan di sebuah toko. Brooks tak pernah tidur nyenyak, ia selalu dilanda ketakutan, beberapa detik setelah terbangun ia pasti bingung tengah berada di mana, hal itu juga yang sering membuatnya susah tidur. Satu narasi menarik yang diucapkan oleh Brooks ketika ia terbangun pada malam hari, “Mungkin aku harus mempunyai pistol dan merampok Food Way, agar mereka bisa membawaku pulang”.

Dari narasi tersebut bisa dilihat bagaimana kata pulang sudah bergeser sedemikian rupa. Bagi sebagian orang, makna pulang adalah bertemu dengan anak, cucu, atau istri, tapi tidak bagi Brooks. Ia sendirian, satu-satunya “keluarga” yang dimiliki adalah para narapidana di Shawshank atau Jake si burung yang ia pelihara ketika di penjara.

Brooks bisa saja menembak manajer tokonya dan kembali ke Shawshank, tapi ia sadar, hal itu adalah omong kosong bagi orang setua dia. Akhirnya Brooks memilih mengakhiri ketakutannya pada dunia “luar” dengan cara lain.

Rumah juga sejalan dengan eksistensi, dan itu berlaku juga untuk Brooks, seperti yang dikatakan Red (diperankan Morgan Freeman) sebagai teman Brooks di Shawshank. Brooks adalah orang yang memiliki eksistensi. Ia dipandang sebagai terpelajar, tapi di luar tembok shawshank Brooks tak lebih dari orang tua renta bekas narapidana. Sederhananya di penjara Brooks “diakui”, sedang di dunia bebas ia tak dipandang sedikitpun.

Bagi Red, Brooks sudah menjadi bagian dari penjara, hal itu bisa diartikan secara harfiah, bahwa Brooks bisa saja sudah menyatu dengan Shawshank. Dengan troly yang ia dorong setiap sore, dengan terali besi, dengan suara jeritan siksaan, ataupun dengan suara tikus yang berkeliaran. Brooks sudah menyatu dengan itu semua.

Mayoritas narapidana di Shawshank selalu memikirkan pulang dengan arti meninggalkan penjara biadap itu, namun tidak bagi Brooks, ia justru membalikkan itu, untuk dia pulang berarti kembali ke dalam penjara. (Zal)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here