Sejarah Warna Paspor Negara-Negara di Dunia

0
941
ilustrasi paspor
foto: 123rf.com

OnWeekend – Paspor secara mudah dipahami sebagai dokumen berupa identitas diri yang dipergunakan seseorang ketika melakukan perjalanan ke negara lain. Meskipun fungsinya sama-sama buku identitas, warna sampul paspor berbeda-beda. Ketidaksamaan warna ini tidak begitu saja terjadi. Ada cerita di balik penetapan warna ini.

Sebetulnya pada awalnya setiap negara bebas menentukan warna paspornya. Tetapi di masa lalu, keputusan ini tidaklah mudah. Sejarah, partisipasi politik, demografis, dan ideologi mepengaruhi warna paspor yang ada sekarang. Di Eropa, misalnya, sembilan negara paling berbengaruh di Uni Eropa punya peran penting dalam menentukan warna merah pada paspor Uni Eropa.

Pada 1981 Komisi Uni Eropa menyepakati penggunaan merah burgundy dalam paspor. Konon, Prancis dianggap memainkan pengaruhnya dalam persetujuan warna ini. Ya, Burgundy sebelum dikenal sebagai warna merupakan sebuah wilayah bersejarah di Prancis. Daerah itu juga dikenal sebagai penghasil wine kelas wahid. Maka tak heran warna ini mirip warna anggur.

Atas anggapan itu rakyat Inggris sempat menolak warna paspor baru. Dalam sejarahnya kedua negara ini selalu berebut pengaruh di Benua Biru. Namun Skotlandialah yang justru pertama kali mengadopsi warna burgundy, dengan membuatnya pada 1988. Penggunaan warna yang baru ini kemudian diperluas sampai 1991. Bahkan Inggris pun mau tidak mau meninggalkan paspor hitam. Pengecualian hanya Kroasia yang tetap menggunakan paspor warna hitam.

Claire Burrows of De La Rue, perusahaan Inggris yang telah membuat paspor sejak 1915 menyatakan warna paspor adalah kebebasan. Negara berhak menentukan warna atas dasar sejarah atau ideologi yang dianutnya.

Swiss, sebagai contoh, tidak mau meninggalkan merah terang dari sampul paspornya, sesuai dengan sejarah dan kesesuaian simbol negara tersebut.

Kesamaan warna paspor juga bisa dipraktikkan beberapa negara dalam satu kawasan. Untuk ini contohnya Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang masig-masing mempunyai paspor warna biru. Namun faktor kawasan tidak berlaku di Asean. Terdapat lima varian warna paspor negara-negara di kawasan ini. Demikian pun di kawasan Amerika Latin yang bisa ditemukan warna berbeda-beda di sejumlah negara.

Faktor kawasan sekaligus latar belakang ideologi juga dapat mempengaruhi warna paspor. Paspor di kawasan Timur Tengah berwarna hijau sebagai representasi Islam. Hanya Israel dan Qatar yang berlainan warna, masing-masing burgundy dan biru. Bukan kebetulan, bendera negara-negara Timur Tengah kecuali yang dua negara tersebut di atas mempunyai ornamen hijau.

Pemilihan paspor hijau juga meluas hingga Bangladesh dan Pakistan yang notabene tidak termasuk kawasan Timur Tengah, tetapi berpopulasi mayoritas Islam. Bendera kedua negara tersebut juga dominan hijau. Bagaimana dengan Indonesia yang sebelumnya juga hijau? Tidak ada yang pasti. Pemilihan hijau pada paspor lama tidak punya alasan kuat terkait dengan agama. Malaysia yang “mendekati” negara Islam mengeluarkan paspor merah. Sedangkan Korea Selatan justru hijau. Baru-baru ini Indonesia mengubah desain paspor umum menjadi biru.

Warna paspor juga bisa dikaitkan dengan ideologi semata. Negara sosialis komunis secara simbolis dekat dengan warna merah. Contoh yang paling nyata ialah Cina, Laos, dan Rusia yang masing-masing berpaspor merah. Namun hal itu nyatanya tidak juga ditiru Vietnam, Kuba, dan Angola yang secara urut memakai hijau, biru, dan merah. Korea Utara yang “sangat” komunis pun berpaspor biru.

Tidak ada yang pasti dalam warna paspor. Setiap negara berhak menentukan warna apa yang mereka inginkan. Dalam derajat tertentu kita bisa mengatakan, apalah arti sebuah warna. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here