Rumah Kertas, Buku Tipis yang Menghantui

0
1179
Rumah Kertas
Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez, foto: @benzbara_

OnWeekend – Buku mengubah takdir hidup orang-orang. Siddharta membuat banyak anak muda menggandrungi kebatinan, pun dengan Hemingway yang membuat mereka menggandrungi olahraga. Namun yang buku juga memakan korban, seorang professor, Leonard Wood, lumpuh setelah lima jilid encyclopedia Britannica jatuh menimpa kepalanya, ada pula yang terserang TBC karena sering berada di gudang arsip bawah tanah, ada pun yang meninggal ketabrak mobil ketika sedang asik membaca buku Poems-nya Emily Dickinson.

Paragrap di atas adalah kutipan dari novel Rumah Kertas karya Carlos Maria Dominguez. Novel tipis yang bercerita tentang rasa penasaran sosok Aku hanya karena menerima kiriman buku untuk partner kerjanya, yang beberapa waktu lalu meninggal, buku yang diterimanya itu memang aneh, ada sedikit kerak semen yang tertempel.

Keanehan pada buku itu ditambah dengan tidak terteranya nama pengirim, alhasil sosok Aku (yang sekaligus narrator) dibuat penasaran, apakah buku ini ada kaitannya dengan kematian partnernya itu?

Ia lantas melakukan perjalanan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang didapat, hingga ke Uruguay. Dalam perjalanan tersebut ada banyak hal yang diperoleh, dari mulai tentang kehidupan, pertemanan, sampai soal kepustakaan.

Tentunya dalam setiap karya Amerika Latin sudah pasti memberikan kesan yang mendalam, sentuhan absurditas yang bercampur dalam realitas yang membuat novel-novel karya penulis Amerika Latin patut dibaca. Tak terkecuali dengan novel Rumah Kertas, pembaca akan menemukan hal-hal mengejutkan selama membaca novel terbitan Marjin Kiri ini.

Banyak bercerita tentang kecintaan Carlos Brauer pada buku-buku, hingga membuat teman-temannya khawatir karena ia mampu mengurung diri seharian di depan tumpukan buku, bahkan dinding kamar mandinya pun penuh dengan buku.

Kecintaan Carlos pada buku itulah yang kemudian berkaitan dengan kematian Bluma, partner kerja sosok Aku. Dominguez menceritakan dengan apik setiap kejadian yang dialami sosok Aku, sampai pada soal pergolakan pemikiran yang akan semakin membawa pembaca masuk lebih dalam. Dengan novel yang tipis ini Dominguez juga bercerita secara padat dan berisi.

Begitu asiknya membaca novel tersebut sampai akhirnya kita akan bersepakat dengan tanggapan New York Times yang bilang bahwa buku ini adalah “Buku tipis yang bisa menghantui pembaca jauh sesudah ditutup”. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here