Review Film : Fantastic Beast and Where to Find Them

0
621
Fantastic Beasts And Where To Find Them
Fantastic Beasts And Where To Find Them, foto: ist

OnWeekend – Pada saat spin-off (Sisipan) film ini diumumkan pada tahun 2013, film ini diharapkan menjadi jawaban atas cerita film Harry Potter di versi yang lebih dewasa. Film ini memasuki tema politik dan tragedy individu yang membuatnya menjadi kisah penceritaan dewasa itu sendiri- walaupun demikian,  penulisan cerita dari J.K. Rowling tetap saja bisa memunculkan sifat kekanakan dalam diri setiap penikmatnya.

Sepertinya distributor film ini, Warner Bross, cukup paham dalam memilih waktu yang tepat untuk memunculkan film ini dipertengahan bulan November 2016. Karena mungkin kita membutuhkan jenis film yang menghibur seperti ini sebagai media pelampiasaan terhadap dunia yang semakin rumit ini.

Film ini ber-setting tempat di kota New York yang ditampilkan kembali dengan sangat indah pada tahun 1920an – menampilkan gedung tinggi pencakar langit, tempat hiburan malam yang temaram serta bisnis kecil yang menjamur pada saat itu. Penonton dibuat mengikuti perjalanan dari seorang magizoologi unik yang berasal dari Inggris bernama Newt Scamander (Eddie Redmayne). Di film ini Scamander mengejar tas ajaib kepunyaanya yang dapat membesar untuk menampung segala jenis hewan magis yang kemudian dicurigai sebagai penyebab dari sebuah aksi teror magis di kota tersebut.

Disinilah kemudian cerita berkembang menjadi lebih berat, dimana terdapat sebuah komunitas anti penyihir di Amerika yang biasa dikenal dengan Muggle disini disebut dengan istilah ‘’No-maj” oleh para penyihir terutama bagi Kongres Penyihir Amerika yang sangat tidak menyukai mereka. Perbedaan kedua kubu tersebut menjadi semakin runcing saat para penyihir dilarang bergaul dengan para No-Maj tersebut apalagi sampai menikahi mereka.

Sementara itu dipihak No-Maj yang mulai menelusuri kejadian misterius dikota tersebut mulai membuat gerakan memburu penyihir, kejadian yang hampir serupa dengan apa yang dilakukan oleh Gereja baptis Westboro yang terkenal menyuarakan intoleransinya. Diluar kejadian tersebut, salah satu pemimpin Auror Graves (Collin Farrell) mengejar sang protagonist Scamander.

Segala jenis kesuraman dalam film ini pun berbanding terbalik dengan empat karakter sentralnya: Scamander yang santun dalam berbicara, ditemani Sidekicknya yang ceria Jacob Kowalsky (Dan Fogler), Tina Goldstein yang keras (Katherine Waterson) ditemani dengan adiknya yang bisa membaca pikiran yaitu Queenie (Alison Sudol). Para fans Harry Potter tentu akan terpana melihat banyak hal ditampilkan disini dari dengan mudahnya Queenie melakukan sihir seperti Legilimency, jemputan ajaib Gigglewater atau bahkan yang tabu digunakan seperti Obscurus.

Bahkan, segala jenis hewan yang hanya diceritakan dalam film Harry Potter sebelumnya pun ditampilkan di film ini. Seperti Niffler seekor hewan magis yang menyerupai platypus dan memiliki kebiasaan untuk mengumpukan semua hal yang berkilauan, juga tidak ketinggalan ada Erupent hewan yang menyerupai badak. Terdapat banyak kejadian konyol dalam film ini termasuk yang terjadi antara Scamander dengan Erupent tersebut, saat ia harus menampilkan ritual khusus percintaan diantara Erupent. Scamander yang ditampilkan menawan oleh Redmayne patut diacungi jempol.

Film ini pun sebenarnya akan dibuat sampai lima seri kedepannya. Dimana seperti kebanyakan film pada hari ini yang menampilkan sedikit demi sedikit sebuah petunjuk untuk melanjutkan cerita dari film yang satu ke film yang lainnya. Begitu juga di film ini, jika kita boleh berandai memiliki kemampuan Queenie dalam membaca pikiran yakni Legilimency kita akan sangat mudah menebak kelanjutan dari film ini, itupun jika tidak mau sedikit berusaha untuk melihat detail fakta-fakta berikut ini.

Fantastic Beast 2 akan menuju Paris.

Seperti yang dikutip dari pernyataan sang produser David Heyman saat diwawancarai oleh Collider salah satu situs tentang film. “Selanjutnya kita akan pergi ke Paris… Kita akan melihat dunia dalam film ini terus meluas, kita akan melintasi era 20an, 30an, 40an atau bahkan lebih dari itu.”

Credence Barebone masih hidup.

Hal ini diterangkan juga oleh produser tersebut saat diwawancara oleh Cinemablend. “Sebenarnya kita punya satu adegan, yang kita potong, dimana Credence terlihat pergi dengan menggunakan sebuah perahu untuk pergi ketempat lain.”

Newt Scamander bukanlah satu satunya tokoh utama yang akan menjadi sentral cerita ini.

Masih lewat wawancara yang sama, Heyman mengatakan kurang lebih “Saya rasa (Newt) tidak akan pusat dari ini cerita ini… mungkin ia hanya menjadi salah satu bagiannya- begitu juga Tina, Queenie dan Jacob- akan tampil menjadi bagian kisah selanjutnya… (Dumbledore) dan Credence dan Grindelwald, saya rasa mereka akan menjadi pemain utama.”

Cerita epik saga ini akan mencapai klimaksnya di tahun 1945, saat Dumbledore berduel melawan Grindelwald.

Kisi cerita ini diambil dari kesimpulan tweet yang dibuat oleh J.K Rowling. Didalam cuitannya tersebut Rowling menulis “Cerita ini akan dimulai pada tahun 1926 dan akan berakhir pada 1945. Ceritanya tidak akan cukup untuk bisa ditampung hanya dalam satu film saja!”

Seperti para fans setia Harry Potter yang pasti telah mengetahui bahwa pada tahun 1945  terjadi sebuah pertarungan yang krusial antara Dumbledore melawan Grindelwald di benteng Nurmengartd, Eropa. Kisah pertarungan ini pun mengakhiri era dari teror sihir jahat dan perang dunia antar penyihir.

Cerita yang melatar belakangi dikeluarkannya Newt dari Hogwarts akan terbuka.

Terdapat adegan yang menarik di film ini tentang cerita tentang Dumbledore yang berdebat sengit dengan Newt dan lalu mengeluarkannya dari Hogwarts. Dalam cerita ini Rowling pun memaparkan sedikit petunjuk saat ditanya oleh salah satu fans Harry Potter di twitter. “kenapa Newt masih bisa menggunakan tongkat dan sihirnya, dan mengapa ia akhirnya dapat bekerja di pemerintahan? Hagrid sepertiya memiliki pengalaman yang berbeda paska dikeluarkan..” (Clara Simmons seorang fans) lalu dijawab oleh Rowling “Semuanya akan jelas nanti. Percayalah padaku.”

Johnny Depp dipilih untuk memerankan Grindwald karena memiliki kemampuan yang penuh pesona sekaligus mampu untuk meneror.

Ketika Voldemort yang diperankan oleh Ralp Fiennes harus selalu dipenuhi dengan tehnologi computer CGI untuk mendukung kesan gelap dan menyeramkan. Maka untuk kasus antagonis kali ini sang produser menginginkan sebuah karakter yang natural, ia harus tampil dengan penampilan yang tanpa dibuat buat. “Kita mencari seseorang yang memikat dan bisa mempesona tapi juga harus orisinil, yang membuatnya menjadi ikon, ia harus actor yang hebat; itulah Johny Depp.” Disaat yang sama produser itupun mengungkapkan “Dia tidak dapat ditolak. Terlau Kuat. Dia seolah membuat sebuah karakter yang menjadi ikon, dan terlihat tanpa mengada-ada. Pilihan yang ia buat sangat tidak dapat ditebak dan itu yang membuatnya  sangat luar biasa dan menarik bagi kita. Ia pilihan yang tepat untuk menjadi Grindelwald.

 

(Sumber: nme.com, guardian.com)

Kontributor: Aditya Permana

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here