Pemenang Pulitzer Prize – Viet Thanh Nguyen: “Kita semua tidak suci. Tidak satupun di antara kita”

0
748
The Sympathizer
The Sympathizer, foto: thedailybeast

OnWeekendPenulis yang memenangi penghargaan karya fiksi Pulitzer tahun 2016 atas karya fiksi debutnya, ‘The Sympathizer’ menjawab tantangan kultural seseorang yang lahir di Vietnam yang dibesarkan di Amerika—sebuah tema yang mengalir di dalam karya fiksi Nguyen

Viet Thanh Nguyen adalah orang luar di antara anak-anak kulit putih kaya di Sekolah Menengah Tinggi (SMA) elit di San Jose, California. Orang tuanya, seorang Katolik pekerja keras, telah menyiapkan tabungan baginya untuk duduk di bangku sekolah menengah Katolik yang bergengsi. Namun, latar belakang Nguyen sebagai seorang imigran-pengungsi dan pekerjaannya di toko bahan pangan milik keluarganya telah mengisolasi Nguyen dari kebanyakan murid.

“Ketika Aku diundang ke rumah teman sekelas, Aku tidak ingin bercerita seperti apa rasanya menjadi orang Vietnam, agar tidak ada yang bertanya,” katanya sambil duduk di lobi hotel miliknya di tengah kota Manhattan bulan Oktober, beberapa jam sebelum Ia menghadiri acara Pulitzer Centennial Dinner tahun 2016 untuk menerima penghargaan atas novel pertamanya, The Sympathizer.

Sebagai bagian dari kampanye panjang untuk mengenalkan dirinya sebagai seorang yang ‘normal’, Nguyen mengambil pekerjaan di musim panas di taman bermain Great America, di mana ia mengoperasikan kendaraan di wahana Yankee Corner, sambil mengenakan celana cut bray dan topi bajak laut dengan terpaksa. Nguyen menabung hingga ia dapat membeli celana pensil yang sedang populer di kalangan anak-anak California Selatan tahun 1980an. Namun ibunya memarahinya ketika Ngunyen membeli sepasang celana di toko Macy. Ibunya menilai celana tersebut terlalu aneh, terlalu ‘Amerika’ dan tidak tampak ‘Vietnam’. Nguyen dipaksa mengembalikan celana itu oleh ibunya.

Nguyen bercerita tentang berbagai upaya untuk mengenakan dua ‘topeng’ ketika itu—untuk menjadi seorang anak Vietnam di rumah dan remaja California normal pada umumnya di sekolah—yang biasanya berakhir dengan pahit, sepahit ketika ia terpaksa mengembalikan celana yang telah dibelinya. Tapi pengalaman-pengalaman tersebut menjadi inspirasi yang kuat dalam karya fiksi Nguyen: seseorang dengan ‘dua wajah’ yang diharuskan untuk memilih wajah mana yang hendak ditunjukkannya tergantung pada lingkungannya. “Sangatlah wajar. Banyak di antara kita mempunya perasaan dualitas,” kata Nguyen sambil menambahkan bahwa perasaan mempunyai ‘dua wajah’ dirasa berlebihan jika digunakan untuk para imigran dan pengungsi. “Perasaan tatkala berpura-pura menjadi orang lain, atau seorang peniru.”

Kisah pendeknya yang berjudul The Refugees, ditulis sebelum The Sympathizer yang akan diterbitkan dibulan Februari, juga menguraikan tentang dualitas melalui pengalaman menjadi “orang asing di lingkungan baru”, dari seorang pengungsi Vietnam yang hidup bersama dua orang gay di San Fransisco hingga bersama mantan prajurit Angkatan Udara kulit hitam kala berlibur di pedesaan Vietnam—yang pernah dibom oleh prajurit itu.

Pengalaman sebagai pengungsi sangat melekat dalam diri Nguyen—keluarganya melarikan diri dari Vietnam setelah jatuhnya Saigon tahun 1975 dan tinggal di kamp pengungsian di Fort Indiantown Gap, Pennsylvania. “Ingatanku dimulai ketika tiba di Amerika Serikat di umur 4 tahun saat dibawa pergi meninggalkan orang tua untuk tinggal dengan keluarga kulit putih. Itulah syarat yang memungkinkan untuk meninggalkan kamp pengungsian,” tulis Nguyen dalam blognya di awal tahun, melengkapi pengalamannya yang tertanam dalam dirinya.

Kalimat pertama dalam The Sympathizer, novel tentang mata-mata double agent di era Perang Vietnam, berbunyi: “Aku seorang mata-mata, orang yang selalu tertidur, seorang hantu, seseorang dengan dua wajah.” Dengan referensi dari buku Apocalypse Now dan The Quiet American, novel itu sangat menarik yang menceritakan tentang double agent mengemban tugas untuk membunuh seorang jenderal Vietnam Selatan. Nguyen berpura-pura loyal, kemudian mengkhianati sang jenderal. The New York Times mendeskripsikan karya tersebut sebagai kisah “tentang keterpaksaan untuk menyembunyikan jati diri di balik begitu banyak lapisan hingga kita tidak mengenali siapa diri kita sebenarnya.”

Dalam upaya untuk menghubungkan poin Nguyen tentang dualitas dan dua wajah, Aku mendeskripsikan pengalaman masa kecilku tinggal di Alaska: di dalam rumah yang hangat yang dibangun ibuku di pegunungan, dan bagaimana ketika Aku pindah ke kota New York, ayah pacarku membelikan setelan baju supaya Aku bisa hadir ke acara keluarganya. “Itu yang Aku maksud!,” lanjut Nguyen mengiyakan pengalamanku. “Momen-momen tersebut ada di dalam hidup setiap orang. Tapi jika kita dipindahkan secara paksa atau migrasi ke negara lain, momen-momen tersebut menjadi bagian dari hidup kita untuk jangka waktu yang lama dan kemungkinan tidak akan pernah hilang.”

Nguyen menginginkan agar novel pertamanya dapat menggambarkan dualitas tersebut, namun khawatir kisah otobiografi akan membosankan. Lalu Ia memutuskan novel mata-mata adalah cara tepat untuk menceritakan kisah umum tentang para imigran yang menginginkan celana pensil atau merasa tidak nyaman di kota baru yang dikemas dengan plot cepat yang sesuai dengan thriller Hollywood

“Aku tahu bahwa pengalaman pribadi mengenakan ‘topeng’, mempunyai dua wajah, selalu berpura-pura, meragukan jati diri sendiri itu dapat menjadi alegori,” kata Nguyen. “Dan oleh karena itu si mata-mata dapat menjadi sarana bagi berbagai pengalaman emosional sehingga dapat menjadi lebih menarik.”

Upaya tersebut berhasil. The Sympathizer mengangkat Nguyen dari hanya seorang profesor yang dihormati di University of Southern California—buku non-fiksinya, Nothing Ever Dies: Vietnam and the Memory of War terdaftar sebagai kandidat National Book Award tahun ini—ke tingkat yang lebih tinggi dimana saat ini dia juga menjadi kolumnis reguler untuk Los Angeles Times dan The New York Times dan berpose di samping Lin-Manuel Miranda, pendiri Hamilton, di makan malam Pulitzer.

Di akhir perbincangan kami, Aku mengatakan bahwa cerita pendek favoritku di The Refugees adalah kisah tentang James Carver, seorang mantan prajurit Angkata Udara kulit hitam yang selalu menyiksa anak perempuannya secara terus menerus, yang tingkat kekerasannya sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kemenangan Carver terhadap rasisme dan hak untuk berpartisipasi di dunia yang didominasi kulit putih mengantarkan pembaca untuk berasumsi di awal bahwa Carver adalah karakter suci dan mengilustrasikan tema tentang ‘dua wajah’ yang diangkat Nguyen. Kisah itu menggambarkan latar belakang Carver: “Dalam ruang perpusatakan di kota kecil berjarak lima mil dari tempat tinggalnya di dusun kecil Alabama, di negara bagian Penn, tempat ia mendapatkan beasiswa ROTC di sekolah penerbangan Angkatan Udara Randolph. Dengan seragam pilot di dalam penerbangan Boeing B-52-nya, ia tidak pernah berada di tempat seharusnya ia berada.”

Berbicara tentang kisah tersebut, Nguyen mengatakan bahwa tujuan utama kedua karya fiksinya, The Sympathizer dan The Refugees, adalah untuk melawan pandangan bahwa setiap orang adalah suci. Menurut Nguyen, terdapat suatu ekspektasi bahwa karakter minoritas seperti Carver, yang sanggup melampaui kesukaran hingga menjadi seorang pahlawan, akan menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, pemboman yang Ia lakukan semasa perang meruntuhkan pandangan tersebut. “Kita semua adalah manusia yang cacat dan kita menutupi wajah kita dari sifat kejam dalam diri,” kata Nguyen padaku. “Kita semua tidak suci. Tidak satupun di antara kita.” (Sumber: independent.co.uk)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here