“Our Brand is Crisis”, Memaklumi Tangisan Politikus

0
1206
Our Brand is Crisis
Our Brand is Crisis

OnWeekend – George Walker Bush, Jr. pada 13 September 2001 melakukan konferensi pers setelah mengumumkan perang melawan al Qaeda di Afghanistan. Masih terdengar tegar suaranya setelah hampir 3000 rakyatnya terpanggang bom menara kembar WTC dua hari sebelumnya. “Amerika akan memimpin perang dan kami akan mengalahkan teroris. Saya tidak punya waktu berdiskusi sekarang,” ujar Bush yang saat itu baru setahun naik tahta.

Namun beberapa menit saja suara Bush berubah. Dia menahan tangis, tetapi itu terdengar cukup jelas. Kantung matannya naik turun sebelum presiden AS ke-43 itu menemukan kembali dirinya. Perang yang tidak seimbang pun ditabuh. Dua tahun kemudian Bush sekali lagi mengobarkan yuda di Tanah Babilonia. Tidak ada lagi tangisan, melainkan tuduhan senjata kimia. Apa yang sesungguhnya terjadi, pengakuan mantan direktur The Fed Alan Greenspan patut dipegang.

“Sungguh menyedihkan untuk mengakui bahwa perang Irak adalah soal ladang minyak.”

Hanya anak-anak yang mengerti makna sejati tangisan. Tangisan yang sederhana tetapi menyentuh. Karena merasa tidak nyaman, takut, sakit, lapar, susah tidur, atau kecewa permintaannya tidak terkabul. Manusia dewasa menangis karena banyak hal. Dan sebab-sebab itu lebih banyak jumlahnya dari air mata yang menitik.

Kalau begitu bagaimana politikus menangis, dan apa yang menjadi pangkalnya? Tidak perlu jawaban teoritis yang kesat dan jumud. Film “Our Brand is Crisis” besutan David Gordon Green adalah jalan keluar yang terang.

Politik adalah seni mempengaruhi orang lain. Kembali ke sifatnya, seni menampilkan keindahan. Ia pun melibatkan karakter, bangunan narasi, nada, dan citra dari tiap-tiap gerakan. Tetapi bagi Jane (Sandra Bullock), seorang wanita konsultan politik kelas wahid, politik adalah perang. Jane dengan kesadarannya yang utuh membuka mata politikus bahwasanya politik akan sempurna dengan melihat menggunakan dua sudut pandang: Tsun Zu dan Machiavelli. Keduanya bisa dikatakan mewakili strategi dan ambisi tanpa batas moral.

Ketika Jane ditawari seorang konsultan politik senior, Nell (Ann Dowd) untuk terbang ke La Paz, Bolivia demi membantu seorang calon presiden berelektabilitas rendah bernama Castillo (Joaquim de Almeida), dia ragu. Namun karena alasan persaingan sesama konsultan politik yang bernama Pat Candy (Billy Bob Thornton), akhirnya diterima juga tantangan tersebut.

Bolivia adalah negara yang tidak berbeda jauh dengan Indonesia. Kelas ekonomi tidak merata dan selalu mempunyai alasan untuk membunyikan isu kesejahteraan.

Castillo terlihat seperti bukan pemenang. Sifatnya arogan, malas tersenyum, dan yang terparah pria itu tampak tidak tahu mau berbuat apa. Jane sempat bingung mau diapakan klien macam begini. Hingga suatu insiden pemukulan oleh Castillo terhadap seorang pria misterius membalikkan semuanya.

Mengutip Tsun Zu, Jane mendesak Castillo tidak meminta maaf. Benar, ketika Anda marah, Anda yang salah. Tetapi legitimasi kesalahan bukan hanya terpampang dari tindakan. Meminta maaf adalah bukti terkuat dari suatu kesalahan. Memukul orang lain adalah suatu cacat. Tetapi dalam iklim politik, menyesalinya adalah kesalahan paling fatal. Dalam kondisi tertentu, tidak meminta maaf juga membuat seseorang mempunyai citra tegas.

“Musuh yang tahu Anda seorang yang temperamental, mereka akan menekan dengan provokatif supaya Anda marah,” ujar Jane.

Hanya beberapa bulan mendekati hari pemungutan suara, dan Castillo masih berada di bawah dengan persentase satu digit. Tetapi konsultan politik pintar membaca brand dan situasi pasar. Yang paling mungkin ialah membiarkan audiens menilai Castillo sebagai si pemarah, arogan, bajingan, dan tidak punya waktu untuk bermain-main.

Dalam persepsi yang rasional, seseorang lebih nyaman jika ditakuti ketimbang dicintai. Namun ketakutan terhadap pemimpin semata-mata kurang menguntungkan. Perlu dicari plot yang menyeramkan, yang membuat khalayak lebih ngeri lagi.

Maka diputuskan Bolivia dalam kondisi krisis. Ya, tidak ada waktu bersenda gurau, bahkan mempertontonkan sisi humanis yang mendayu-dayu seperti yang ditunjukkan Rivera (Louis Arcella), calon presiden terkuat yang membawa citra merakyat.

Strategi menebar ketakutan ini rupanya berhasil. Dalam beberapa pekan saja Castillo merangsek ke tiga besar dengan persentase dua digit. Tentu saja dengan intrik politik dukungan yang semuanya suka tidak suka dilabeli halal.

Ketika khalayak sudah merasa takut terhadap suatu teks dan menyematkan label tegas demi melindungi rakyat di wajahnya, tidak ada salahnya menunjukkan sisi humanis. Orang-orang selalu ingin tahu hal-hal yang bersifat pribadi, yang menyentuh, yang menunjukkan sifat manusia sesungguhnya. Dalam titik ini Castillo dianjurkan untuk mengungkap senoktah kisah keluarganya yang sarat emosi.

Tetapi tangisan politikus bukan sembarang air mata. Menangis adalah klimaks dalam lembaran skenario politik. Dan yang terbaik ialah menangis ketika disorot kamera. Castillo enggan melakukan itu awalnya. Namun secara mengejutkan dia menunjukkan kesedihannya dalam sebuah sesi wawancara di televisi. Bingo!

Selanjutnya akhir cerita sudah bisa ditebak. Raihan survei Castillo melesat jauh tak terhentikan, hingga memenangi pemilu Bolivia, meskipun dia tidak sekali pun meminta maaf pada pria yang dia beri bogem mentah.

Film keluaran 2015 ini agaknya tidak melayar lebarkan akrobat politikus yang penuh siasat dan intrik. Justru dari karya ini bisa memaklumi apa yang (mungkin) terjadi dalam suatu pertarungan politik level atas. Etika dan moral jadi pemandangan yang bias. Seperti kata Machiavelli, “Jangan pernah mencoba memenangkan pertarungan dengan kekuatan, selagi masih bisa dimenangkan dengan tipu muslihat.”

Sekali lagi, hanya anak kecil yang mengerti arti tangisan. Apakah pantas membenci politikus yang menangis? Rasanya akan lebih mulia jika orang-orang memaklumi adegan ini. Tangisan bukanlah kegiatan dadakan layaknya gorengan tahu bulat, tetapi suatu praktik konstruksi realitas demi tujuan tertentu. Bersimpati dan menghardik tangisan politikus juga tindakan yang kontra produktif. Mengutip Nietzsche, “Politik membedakan manusia menjadi dua bagian, mesin (pendukung) dan musuh.” (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here