Merealisasikan Ide Pariwisata di Ternate

0
459
Danau Ngade
Pemandangan Danau Ngade di Ternate, foto: dok

Media sosial membawa perubahan pada kehidupan manusia abad ini, tiap laku sosial nampaknya dipengaruhi oleh media sosial, tak terkecuali dengan cara berlibur. Dan Ansar, pemuda Ternate, menyadari hal itu.

OnWeekend – Jika dulu berfoto saat liburan bukan menjadi hal utama atau hanya untuk mengabadikan suasana saja, maka berbeda dengan era sekarang, di mana berfoto kadang justru menjadi menu utama  dalam tiap vakansi. Hal ini terlihat dari spot-spot wisata yang berkembang belakangan, yang mana lebih menitikberatkan foto. Kita bisa menyebutkan beberapa contoh seperti Kalibiru di Yogyakarta atau Umbul Ponggok di Klaten.

Siang itu tim Onweekend yang sedang berada di Ternate berkunjung ke lokasi panorama danau Ngade, tak sampai 15 menit dari pusat kota, kami sampai ke lokasi tersebut. Di sana kami disambut oleh seorang pemuda bercelana panjang batik dan berkaos, tangannya menggenggam beberapa lembar uang. Sembari sesekali menyambut para pengunjung pemuda bernama Ansar ini bersedia kami ajak ngobrol tentang idenya membuat spot wisata foto yang tengah diperbincangkan oleh para netizen ini.

Sebelumnya tak terpikirkan olehnya akan membuat spot wisata foto yang menarik ribuan pengunjung, lulusan Akademi Pariwisata di kota Makassar ini seperti dengan para sarjana lainnya, pulang ke Ternate dengan harapan akan menemukan pekerjaan. Namun nasib nampaknya telah menemukan jalannya sendiri, ia tak kunjung menemukan pekerjaan yang diharapkan. Bahkan, hingga ia harus mencarinya di pulau di ujung Utara Maluku, “saya bahkan pergi ke Morotai untuk mencari pekerjaan”, ujarnya.

Tak menemukan hasil, ia lantas kembali ke Ternate. Di Ternate sesekali ia menjual hammock.

Suatu ketika Ansar yang tinggal di Kelurahan Fitu ini menawarkan hammock kepada salah-satu tetangganya yang memiliki sebidang tanah di puncak bukit danau Ngade, di situ memang telah berdiri warung yang menjual penganan sederhana untuk para pengunjung, “Dulu di sini biasanya tempat saya main bareng kawan-kawan”, katanya.

Ia kemudian berhasil meyakinkan si pemilik untuk turut menyediakan hammock agar menarik para pengunjung. “Mereka setuju saja, beberapa hari memang ada yang menggunakan hammock itu, namun karena lokasi ini sebelumnya kurang dikenal maka pengunjung pun minim”, tutur pria berdarah Makassar ini.

Tidak habis akal dan juga berbekal ilmu yang dipelajarinya,  ia kemudian mengajukan tawaran untuk menyewa tanah tersebut. Ia diijinkan menyewa tanah yang berada sedikit di bawah. Ansar mengaku sejak saat itu ia lantas mengajak teman-temannya untuk turut membantu merealisasikan idenya tersebut.

Beruntung ayahnya adalah seorang yang bisa bekerja bangunan, jadi ia tak perlu jauh-jauh untuk mencari orang untuk membangun apa yang diinginkannya, “Jadi saya beruntung, di rumah sudah ada orang yang paham soal bangunan, jadi tak perlu mengeluarkan biaya lagi, bukan?,” jelasnya sambil tertawa.

Danau Ngade

Candanya itu bukan tanpa alasan, memang untuk membangun tempat ini ia hanya berbekal dana yang bisa dibilang pas-pasan.

Berbekal bantuan dari kawan-kawan dan ayahnya itu pekerjaan pun dimulai, butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikannya. “Awalnya beberapa orang yang lewat penasaran dan masuk untuk berfoto, saat itu memang belum dipagari jadi mereka masuknya gratis”, canda pria yang juga hobi mengendarai vespa ini.

 

Beberapa hari kemudian, setelah para pengunjung itu memposting foto mereka ke media sosial maka orang-orang pun mulai mengetahui tempatnya, sejak saat itu spot foto ini mulai ramai dikunjungi masyarakat Ternate.

Ia sempat berpikir agak lama ketika kami tanyai berapa banyak pengunjung yang sudah mengunjungi spot wisatanya tersebut, “Kami kan baru buka dua minggu ini, tepatnya 24 Februari lalu, nah sejak saat itu hingga sekarang ini berdasar data saya sih sudah sekitar 6,000 orang”. Ucapnya.

Harus disebutkan sebagai sesuatu yang menakjubkan memang untuk lokasi wisata yang baru dua minggu tapi sudah menarik pengunjung sebanyak itu. Dengan tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang untuk orang dewasa dan Rp 3.000 untuk anak-anak, para pengunjung bisa menikmati keindahan alam yang menakjubkan dengan berlatar belakang danau Ngade, laut nan biru serta gunung Maitara dan gunung Tidore yang menjulang.

Danau Ngade

Selain jembatan selfie juga ada rumah pohon dan fasilitas hammock yang disediakan. Tak ayal juga ia telah turut membantu memberdayakan pemuda-pemuda di lingkungannya.

Pemuda kelahiran 1992 ini juga mengaku kaget dengan antusiasme masyarakat kota Ternate dalam menemukan hal-hal baru.  Ia bahkan tak habis pikir para pengunjungnya dengan rela saja mengantri untuk menunggu gilirannya.

Selama yang ia pelajari di kampus, ia selalu dihadapkan pada teori yang mangatakan bahwa lokasi wisata tak mestinya membuat para pengunjungnya antri, namun pada prakteknya ia tak menemukan hal itu.

Pernah ada insiden ketika pengunjung tak sabar untuk menunggu gilirannya, hingga terjadi cek-cok sesama pengunjung, namun ia berhasil menengahinya, tapi sejak itu ia menempatkan seorang kawan untuk mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan para pengunjung untuk berfoto.

Ansar turut mengamini bahwa wisata foto seperti ini memang membutuhkan pembaharuan terus-menerus agar pengunjung terus menemukan hal-hal baru, oleh karena itu ia berencana akan membuka juga spot tersebut pada malam hari, tentu dengan sentuhan-sentuhan artistic agar menarik para wisatawan. “Ide yang bagus”, ucap Ansar ketika salah-satu tim Onweekend menyarankan untuk memberikan suasana lampion ketika dibuka pada malam hari nanti.

“Intinya saya senang, sebab setidaknya saya sudah memberikan hal atau wawasan baru untuk para wisatawan, khususnya untuk masyarakat Ternate”, pungkasnya. (*)

Danau Ngade

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here