Menyusuri Candi Cetho di Karanganyar

0
1598

OnWeekend – Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah. Mulai dari zaman pra sejarah, zaman kerajaan Hindu, hingga ke masa pergerakan kemerdekaan Indonesia memiliki banyak peninggalan yang menarik untuk dikunjungi. Selain itu, wisata sejarah Indonesia juga dapat mendapat pengetahuan kita.

Candi Cetho yang terletak di lereng Gunung Lawu, Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, adalah salah satu peninggalan sejarah zaman kerajaan-kerajaan Hindu yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Untuk sampai ke kawasan candi, kamu mesti menyusuri jalan Afdeling Kemuning. Sepanjang perjalalanan kamu akan disuguhkan pemandangan kebun-kebun teh yang ada di sepanjang lereng bukit. Rute mendaki akan kita lalui selama kurang lebih setengah jam.

Jika menggunakan motor, sangat disarankan untuk tidak menggunakan motor bermesin lemah, karena itu pasti akan mengganggu perjalanan. Rute mendaki yang akan dilalui cukup terjal, jadi mesti menggunakan motor bertenaga kuat agar bisa melalui tanjakan-tanjakan terjal menuju Candi Cetho.

Namun, asiknya ketika menempuh perjalanan, kamu akan disuguhkan tempat wisata yang dapat nikmati. Di sepanjangan jalan di jalan menuju Candi Cetho ada Perkebunan Karet dan tempat minum teh alami yang langsung dipetik dari kebun teh.

Begitu sampai di tanjakan terakhir terasa sekali dingin menyentuh kulit. Ternyata Candi Cetho ini berada di ketinggian 1400m di atas permukan laut. Pantas terasa dingin. Dan apabila cuaca cerah, kita bisa melihat dengan jelas Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dari gapura candi.

Jika diperhatikan sekilas, gapura Candi Cetho ini mirip dengan gapura yang ada di Bali. Ketika tim OnWeekend tanya penduduk sekitar, mayoritas penduduk yang tinggal di sekitar candi memeluk Agama Hindu. Dan ketika memasuki halaman candi, terasa sekali corak agama Hindu.

Di depan gapura kita disambut sepasang Arca Nyai Gemang Arum. Namun, ketika mengamati dengan seksama, Arca Nyai Gemang Arum ini lebih mirip orang Sumeria, tidak menyerupai peninggalan-peninggalan Kerjaaan Majapahit lainnya. Padahal banyak yang menduga bahwa Candi Cetho ini merupakan bagian dari peninggalan akhir era Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.

Dari depan pintu masuk akan terlihat kalau Candi Cetho ini memiliki Sembilan tingkat berundak. Namun, menurut informasi yang didapat sebenarnya Candi Cetho memiliki empat belas tingkat berundak.

Banyak keanehan yang ditemui ketika memasuki lingkungan candi. Pada tingkat ketiga terdapat susunan bebatuan yang menyerupai kura-kura. Konon bebatuan yang menyerupai kura-kura itu merupakan lambang Kerajaan Majapahit. Di depan susunan batu yang menyerupai kura-kura itu juga terdapat simbol phallus (alat kelamin laki-laki).

image4
Arca Phallus (kemaluan laki-laki)

Teras selanjutnya kita akan melihat relief batu yang menceritakan Sudhamala, menceritakan kisah manusia yang berusaha melepaskan diri dari malapetaka.

Selain arca-arca yang telah disebutkan tadi, banyak arca di Candi Cetho ini. Di tingkat ketujuh kita akan menjumpai arca Sabdapalon dan arca Nayagenggong, dua tokoh yang konon hanya mitos. Ada pula arca Phallus dan arca Prabu Brawijaya V yang terdapat di tingkat selanjutnya. Konon bagi laki-laki yang memegang arca Phallus ini akan mendapatkan keperkasaan.

Sebelum mencapai tingkat tertinggi terdapat jalan menuju Puri Saraswati dan Candi Kethek. Di Puri Saraswati ini ada semacam larangan bagi perempuan yang sedang menstruasi memasuki puri. Entah karena apa larangan itu dibuat, namun pengunjung perempuan yang datang nampak mentaati larangan itu.

Dan di tingkat paling akhir kita akan melihat bangunan utama. Bangunan ini berbentuk trapesium. Kalau diperhatikan, bangunan candi ini mirip dengan bangunan Kuil Tikal peninggalan peradaban Maya di daerah Amerika Tengah. Dan Konon tempat ini juga bisa menguji keperawanan seorang perempuan. Sama seperti mitos yang ada di Candi Sukuh. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here