Menunggu Ketidakpastian Film Bumi Manusia

0
966
Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, foto: ist

Onweekend– Bukan lagi hal baru ketika sebuah novel terkenal diadaptasi ke layar lebar. Di barat, tak jarang film adaptasi mendapat respon pasar luar biasa. Sebut saja karakter Vito Corleone yang disegani dalam The Good Father, The Hunger Games, Lord of The Rings, Harry Potter, dan masih banyak lagi. Indonesia juga tak kalah, bioskop cukup sering dibuat sesak karena film jenis bigini. Siapa tak kenal Laskar Pelangi, Atau Ayat-Ayat Cinta atau sederet kisah-kisah popular seperti Eiffel I’m In Love, Dealova dan kawan-kawannya? Semua diangkat dari novel.

Sama seperti di barat, Indonesia juga tak kurang buku cerita yang layak difilmkan. Srintil, tokoh peronggeng seksi yang diciptakan Ahmad Tohari dalam novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, mampu sukses besar menggait penonton di layar lebar. Meski berganti judul jadi Sang Penari, Srintil tetap peronggeng 60-an yang menawan.

Omong-omong soal novel yang akan dijadikan film, kabar gembira datang dari Tere Liye, banyak situs pengulas film dalam negeri mencatat setidaknya tiga judul novel karya nya akan diangkat ke layar lebar. Tapi bukan itu yang akan saya bahas. Ada kabar yang lebih mengejutkan. Bumi Manusia akan difilmkan!

Bumi Manusia. Boleh dibilang novel ini tak begitu popular di kalangan remaja masa kini. Tapi setidaknya, dimata sineas dan rumah produksi di Indonesia, karya sastrawan andal Pramoedya Ananta Toer ini bagai tokoh Srintil yang digilai.

Setidaknya, sejak 2004, Garin Nugroho, sutradara film Guru Bangsa, Tjokroaminoto, sudah colong start dengan mengumumkan ke public akan segera memvisualkan Bumi manusia. Tahun berlalu. Garin tak muncul gaungnya. Wacana Bumi Manusia hilang begitu saja.

Lambat laun Bumi manusia kembali ditaksir sutradara. Delapan tahun kemudian, Mira Lesmana dan sineas sehatinya, Riri Riza muncul di depan khalayak dengan wacana serupa. Tak berbeda dengan Garin, Mira gagal mendapuk karya mendiang Pramoedya itu karena kekurangan biaya.

Berbagai sumber mengutip, cerita tentang seorang tokoh pribumi bernama Minke ini menelan biaya hingga 40 miliar rupiah. Nilai yang memang cukup membuat mata terbelalak apalagi untuk mata investor film Indonesia yang konon tak mau berinvestasi besar.

Ah, jangan sedih! Dana yang segitu besar bisa jadi bukan hal yang sulit abad ini. Anggy Umbara kemudian datang dengan seorang investor, dan mereka kembali sesumbar akan memfilmkan Bumi Manusia. Luar biasa memang. Dalam satu kesempatan wawancara, sutradara Comic 8 ini mengatakan dengan sangat percaya diri akan membesut Bumi Manusia dan akan segera tayang 2016 ini. Anggy mengaku sudah membaca novelnya dan sangat tertarik dengan kisah politik dan cinta terlarang Mingke dan Annelise.

Luar biasa, Anggy! saya jadi membayangkan akan jadi seperti apa Bumi Manusia apabila digarap oleh sutradara yang bahkan belum pernah membaca karya besar ini sebelum ditawari menjadi sutradaranya. Entahlah.

Bulan berganti, 2016 sisa 4 bulan lagi. Anggy lagi-lagi tak muncul suaranya. Mengangkat Bumi Manusia ke layar kaca lama-lama jadi mitos belaka. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here