Mengenal Sejarah Candi Cetho

0
1881
Candi Cetho
Candi Cetho pertama kali ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Van de Vlies, foto: dok

OnWeekend – Mengunjungi Candi Cetho di Karanganyar tidak lengkap rasanya jika hanya sekedar berkunjung tanpa mengetahui sejarah candi peninggalan kerajaan era Hindu ini. Candi yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi ini pertama kali ditemukan oleh seorang berkebangsaan Belanda, Van de Vlies, pada tahun 1842.

Nama “Cetho” dalam bahasa Jawa berarti “Jelas”. Nama ini diberikan penduduk Dusun Cetho, sesuai dengan nama dusun. Hal ini dikarenakan orang-orang dari dusun ini dapat melihat dengan jelas pegunungan yang mengitarinya yaitu Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Lawu, serta dari kejauhan juga dapat terlihat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Saat ditemukan kondisi candi tidak seperti yang terlihat sekarang. Awalnya candi ini hanya berupa reruntuhan batu yang terdiri dari 14 teras.  Baru pada tahun 1970 reruntuhan Candi Cetho dipugar oleh Humardani, asisten pribadi mantan Presiden Soeharto.

Hasil dari pemugaran tersebut dipasang gapura, balai, dan bale-bale. Namun, setelah pemugaran itu selesai, hasilnya pemugaran itu malah ditentang oleh ahli-ahli arkeologi karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah pemugaran bangunan sejarah.

Menurut hasil penelitian para ahli, Candi Cetho diperkiran dibangun pada masa kerajaan Majapahit, yakni pada masa pemerintahan Raja Brawijaya V, pada tahun 1451-1470, atau sekitar abad ke-15. Pembangunan candi ini diduga untuk tujuan ruwatan dikarenakan pada masa itu banyak terjadi kekacauan.

Bangunan candi ini mempunyai bentuk yang sangat unik, sama uniknya dengan bentuk bangunan Candi Sukuh, yang juga diperkirakan dibangun pada abad yang sama. Candi Cetho tidak berbentuk seperti candi yang bercorak Hindu pada umumnya. Bentuknya menyerupai pundek berundak. Hal ini memunculkan spekulasi bahwa pembangunan candi tersebut ketika masa akhir kejayaan Kerajaan Majapahit dan masyarakat kembali pada kebudayaan aslinya.

Banyak arca-arca di Candi Cetho ini. Di setiap tingkatnya atau terasnya terdapat arca. Sebelum memasuki teras pertama kita akan melihat 2 buah arca yang disebut sebagai Nyai Gemang Arum. Kemudian setelah memasuki teras akan nampak gapura yang menyerupai bentuk gapura seperti yang dilihat di Bali.

Teras pertama ini hanya berupa halaman. Namun, dibagian selatannya dapat kita jumpai sebuah bangunan pendopo tanpa dinding. Alasnya berupa batu yang terlihat seperti untuk menaruh sesaji.

Di teras kedua akan terlihat arca Nyai Agni yang terdapat disebelah tangga. Namun, salah satu arca ini nampak sudah rusak. Teras kedua ini mirip seperti teras pertama, namun di halamannya terdapat hamparan batuan yang bersusun seperti burung Garuda.

Selain itu, di teras kedua ini juga terdapat sebuah alat kelamin laki-laki atau disebut Kalacakra. Hal ini yang membuat Candi Cetho sering pula disebut “Candi Lanang” atau Candi Laki-laki.

Pada teras ketiga juga terdapat halaman. Di sini juga ada 2 buah bangunan yang di dalamnya ada semacam meja batu untuk sesaji. Dengan relief orang dan binatang pada dindingnya. Di teras keempat terlihat lebih rapi. Nampaknya bangunan ini sebagian besar hasil pemugaran.

Teras kelima terdapat Arca Bima sebagai tanda masuk pada pintu masuk. Di teras ini juga terdapat halaman dengan dua bangunan pendapa tanpa dinding. Pada teras keenam juga terdapat halaman kecil seperti teras-teras yang lain.

Di teras ketujuh terdapat sepasang patung Ganesha dan sebuah patung Kalacakra. Pada teras kedepalan juga terdapat sepasang arca dengan relief tulisan jawa yang menunjukan tahun pembuatan candi.

Begitu sampai pada teras kesembilan, akan terlihat bangunan menghadap ke timur yang berfungsi sebagai penyimpanan benda-benda kuno. Selain itu, juga terdapat patung Sabdapalon dan patung Nayagenggong yang merupakan tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan.

Pada teras kesepuluh ini akan dijumpai 3 bangunan disebelah kanan dan 3 disebelah kiri. DI depan kedua sisi bangunan tersebut terdapat arca Prabu Brawijaya dan prabu Kalacakra.

Pada teras teratas, yaitu pada teras kesebelas, kita akan menjumpai sebuah bangunan utama berupa ruang tanpa atap. Dari sini kita bisa melihat seluruh komplek bangunan Candi Cetho sampai ke tingkat paling bawah.

Begitulah sejarah Candi Cetho beserta peninggalan-peninggalannya. Jika kamu penyuka wisata sejarah dan budaya, Candi Cetho ini juga layak kamu kunjungi. Pemandangan yang ada di Candi Cetho ini juga tidak kalah dengan candi-candi lainnya yang ada di Indonesia. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here