Mengenal Nama Jabatan dalam Sistem Pemerintahan Suku Baduy Dalam

0
1710
Suku Baduy, foto: ist.

Ada yang menarik untuk diketahui ketika kita jalan-jalan atau wisata budaya ke Suku Baduy. Suku yang berdiam di daerah Pegunungan Keundeng, desa Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, propinsi Banten, ini memiliki sistem pemerintahan yang unik dan menarik untuk diketahui dan dipelajari.

Suku Baduy Dalam (Kelompok Tangtu) bermukim di pedalaman yang terisolasi dan belum terpengaruh dengan kebudayaan luar. Berbeda dengan Suku Baduy Luar (Kelompok Panamping) yang justru sebaliknya.

Baduy dalam mempunyai tiga kampung yaitu Cikeusik, Cikartawana, dan Cibeo. Masing-masing dari daerah tersebut memiliki struktur pemerintahannya sendiri. Apa saja nama jabatan dan fungsinya, berikut pembahasannya:

PU’UN

Otoritas Pu’un Cikeusik adalah menyangkut urusan keagamaan dan ketua pengadilan adat yang menentukan pelaksanaan upacara-upacara adat (seren taun, kawalu dan seba) dan memutuskan hukuman bagi pelanggar adat.

Otoritas Pu’un Cibeo Menyangkut pelayanan kepada warga dan tamu di kawasan baduy, termasuk pada urusan administrator tertib wilayah, pelintas batas dan berhubungan dengan daerah luar.

Otoritas Pu’un Cikertawarna menyangkut urusan pembinaan warga, kesejahteraan, keamanan atau sebagai badan pelaksana langsung di lapangan yang memonitor permasalahan yang berhubungan dengan kawasan baduy.

Jabatan Pu’un berlangsung secara turun temurun dan tidak mempunyai batas waktu menjabat tapi berdasarkan kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut dan jabatan Pu’un tidak ototmatis dari bapak ke anak, atau bisa ke saudara atau orang lain yang dianggap mempunyai kemampuan sebagai pemimpin. Biasanya pergantian Pu’un karena ada dua hal, yang pertama karena tidak lagi sanggup memegang jabatan tersebut dan yang kedua dikarenakan meninggal.

GIRANG SEURAT

Girang Seurat merupakan jabatan tertinggi kedua setelah Pu’un yang melaksanakan tugas sebagai “sekertaris” Pu’un atau pemangku adat. Girang Seurat juga bertugas menjadi penghubung dan pembantu utama Pu’un. Setiap orang yang ingin menghadap atau bertemu Pu’un harus melalui Girang Seurat. Tamu dari luar lebih dihadapi oleh Girang Seurat yang mewakili Pu’un. Sebagai pembantu Pu’un, girang seurat hanya ada di Tangtu Cikeusik dan Cibeo, sedangkan di Cikertawana tugas yang sama dipegang oleh kokolot “tetua kampung”.

JARO

Jaro merupakan pelaksana harian urusan pemerintahan kapuunan. Tugas Jaro sangat berat karena meliputi segala macam urusan. Dalam menjalankan pemerintahan adat sehari-hari dilaksanakan oleh wakil pimpinan adat yang disebut Jaro. Jaro terbagi menjadi empat jabatan, yaitu: Jaro Tangtu, Jaro Dangka, Jaro Tanggungan dan Jaro Pamerentah.

Jaro Tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya.

Jaro Dangka bertugas menjaga, mengurus dan memelihara tanah titipan leluhur baik yang ada di dalam dan di luar Kanekes.

Jaro Dangka berjumlah 9 orang, yang apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai Jaro Dua belas. Pimpinan dari jaro dua belas ini disebut sebagai Jaro Tanggungan.

Jaro Pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampong.

BARESAN

Baresan adalah semacam petugas keamanan kampung yang bertugas dan bertanggung jawab dalam bidang keamanan dan ketertiban. Mereka termasuk dalam anggota sidang kapuunan atau semacam majelis yang beranggotakan sebelas orang di Cikeusik, sembilan orang di Cibeo dan lima orang di Cikertawana. Mereka juga dapat menggantikan Pu’un menerima tamu yang akan menginap dan dalam berbagai upacara adat.

TANGKESAN

Tangkesan merupakan dukun kepala dan sebagai atasan dari semua dukun yang ada di Baduy. Ia juga merupakan juru ramal bagi segala aspek kehidupan orang Baduy. Ia terlibat dalam penentuan orang yang pantas menjadi Pu’un. Ia juga orang yang memberi restu pada orang yang ingin menjadi dukun. Oleh karena itu, orang yang menjabat sebagai Tangkesan harus cendikia dan menguasai ilmu obat-obatan dan mantera-mantera. Sekalipun Tangkesan dapat memberikan nasihat dan menjadi tempat bertanya bagi Pu’un, jabatan ini dapat dipegang oleh orang baduy luar. Dalam hal ini, biasanya ia merupakan keturunan dari Tangkesan sebelumnya.

PALAWARI

Palawari merupakan kelompok khusus – semacam panitia tetap – yang bertugas sebagai pembantu, pesuruh dan perantara dalam berbagai kegiatan upacara adat. Palawari mendapat tugas dari Tangkesan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan persiapan dan pelaksanaan suatu upacara adat, yakni menyediakan makanan untuk semua petugas dan warga yang terlibat dalam upacara tersebut.

PANGIWA

Pangiwa adalah orang wakil Jaro Pamarentah merupakan pembantu utama dalam menjalankan tugas-tugas dari pemerintah atau amanat dari Pu’un.

(@ipunkurakan)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here