Mengapa Kamu Tidak Boleh Menyerah Pada Cinta?

0
587
Tin dan Matt
Tin dan Matt, foto: bbc.co.uk

OnWeekend – Ketika mereka masih kecil, tinggal di dunia yang berlainan, Christine “Tin” Miguel dan Matt Mandino memiliki kesamaan: mereka takut terbang.

Tumbuh sebagai salah satu dari enam anak di Filipina, Tin selalu memegang tangan kakaknya dengan erat setiap kali mereka terbang. Di Amerika Serikat, Matt sangat gugup ketika naik pesawat sampai-sampai orang tuanya menyeret dia ke bandara. “Aku takut ketinggian juga,” ujar Matt sambil tertawa.

Kini, saat mereka bertambah tua, keduanya disita dengan nafsu berkelana. Keinginan mereka untuk melihat dunia melebihi ketakukan awal mereka, dan akhirnya, mereka tidak hanya menaklukkan ketakutan mereka terbang, tetapi telah menjadi bagian dari karir mereka. Tin menjadi pramugari, dan Matt menjadi pilot komersial.

Karena pekerjaan mereka di dunia penerbangan, Tin dan Matt bertemu di sebuah restoran di pantai dekat Chennai, India, pada bulan Juni 2012. Matt tinggal di sana dan bekerja untuk maskapai India, Jet Airways. Tin bekerja di Arab Saudi. Ia singgah di Chennai dan telah memutuskan untuk menghabiskan hari di pantai dengan seorang rekan. Mereka makan siang di restoran Santana yang menghadap ke pantai.

“Hanya kami yang berada di restoran ketika Matt dan temannya berjalan memasuki restoran,” kenang Tin. “Aku pikir dia lucu, dan untuk beberapa alasan, aku merasa telah lama mengenalnya,” imbuh Tin ketika mengenang pertemuan pertamanya dengan Matt.

Matt juga langsung tertarik. “Senyumnya begitu cantik dan menghibur. Aku berjalan ke arah dia dan bertanya apa yang dia makan. Dia mengatakan ‘cumi’.”

“Dan aku memutar mataku,” Tin tertawa. “Dia memberi kartu namanya dan berkata dia akan senang jika aku menunjukkan daerah sekitar di waktu berikutnya saat ia masih di India. Aku mengirimnya email beberapa hari kemudian, dan kami mulai saling berbalas pesan. Ku katakan kepadanya untuk kembali pada bulan September saat aku ulang tahun.”

Pada kencan pertama mereka, Matt bergegas menjemput Tin dari hotelnya. “Dia terlambat,” ingat Tin. “Kemudian aku tahu itu karena ia mencari bunga sampai penjuru kota. Dia bertanya, apakah dia bisa melihat ku lagi saat terbang ke tujuan berikutnya, dan segera setelah itu, ia memintaku jadi pacarnya.”

Mereka berusaha untuk mengenal satu sama lain saat bepergian, bertemu sesering mungkin dan pergi  bertualang ke seluruh penjuru India. Kemudian, pada tahun 2013, Matt pindah ke Hawaii.

Tin mengingat hari ketika ia membantu Matt berkemas untuk pindah. “Aku berpikir, ‘aku begitu peduli dengan dia, tapi itu Hawaii, dunia yang lain. Ini akan memakan waktu 48 jam perjalanan untuk hanya melihat dia, dan itu mahal,” keluh Tin.

“Aku berpikir bahwa, jika tidak ada yang terjadi, setidaknya kita akan memiliki waktu yang tepat. Tapi tentu saja aku berharap kita akan berakhir bersama-sama.”

Hari itu, Tin menunjukkan kepada Matt pusaka keluarga – cincin safir – dan memintanya untuk datang ke Hawaii dengan visa tunangan. “Ini cincin yang sama yang ayahnya berikan kepada ibunya,” kata Tin. “Ibunya dan aku berulang tahun di bulan September dan safir adalah batu kelahiran kita. Sejak saat itu, aku menyadari ia bersedia untuk membuatnya bekerja.”

“Aku bertanya apakah ia akan keberatan pindah, dan ia berkata ‘aku akan hidup di mana pun kamu inginkan, bahkan jika kita harus hidup dalam kotak kardus,” ingat Matt.

“Aku selalu berpikir tetap akan ada peluang dan pekerjaan di mana-mana,” kata Tin, “tapi setiap orang itu unik. Hanya ada satu Matt. Kami tidak tahu di mana kita di masa depan, tapi itu tidak masalah asalkan kita bersama-sama.”

Sayangnya, masih membutuhkan waktu yang lama sebelum mereka dapat bersatu kembali untuk selamanya. “Ini membutuhkan sebuah proses,” kata Tin.

“Sementara Matt bekerja di Hawaii, aku masih tinggal di Arab Saudi, akhirnya ia menemukan sebuah permainan yang disebut ‘Follow Tin’ di mana ia akan terbang di waktu luangnya untuk melihat di mana jadwal aku terbang.”

Tin dan Matt
Tin dan Matt mengelilingi dunia bersama-sama, foto: bbc.co.uk

Pasangan ini bertemu di kota-kota seperti Jenewa, Milan, dan Barcelona.

“Kami sering bertemu hanya 36 jam, itu jadi benar-benar istimewa, kami membuat banyak jadwal keluar di waktu yang singkat bersama-sama.”

Akhirnya, pada bulan Juli 2014, Matt dan Tin menikah di Hawaii. “aku hanya ingin menikah, aku tidak ingin acara pernikahan,” kata Tin. Mereka memutuskan untuk menyimpan uang untuk hal-hal lain. Pasangan ini akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama di Bali.

Berkaca pada tahun-tahun mereka menghabiskan hubungan jarak jauh, Tin mengatakan bahwa ada beberapa aspek positif untuk berpisah. “Ini membuat kamu lebih bergairah. Kamu benar-benar berpikir tentang apa yang kamu inginkan. Jika kamu menyukai satu sama lain, kamu jangan menyerah.” (Sumber: bbc.co.uk)

Matt dan Tin
Matt dan Tin akhirnya hidup bersama dan memutuskan untuk tinggal di Bali, foto: bbc.co.uk

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here