Menerbitkan Buku Sendiri, Untung atau Buntung?

0
1337
ilustrasi penerbit buku
foto: dok

OnWeekend – Penerbitan buku tidaklah sederhana. Penerbit mempertimbangkan banyak faktor untuk memutuskan layak tidaknya sebuah naskah diterbitkan. Perlu dimaklumi bahwa penerbit level sedang dan besar mempunyai lebih banyak naskah kiriman yang terbuang daripada yang naik cetak. Penulis yang menganggap naskahnya bagus tidak selalu berhasil menerbitkan buku. Pembacaan pasar, itu yang utama dalam industri penerbitan sekarang.

Sekadar tahu saja, naskah “Harry Potter” karangan Joanne Kathleen Rowling awalnya sudah ditolak hampir seluruh penerbit di Inggris. Tak kunjung menemukan jalan, pada 1994 JK Rowling akhirnya mengirimkan ceritanya ke Bloomsbury, penerbit kecil dan masih baru. Nigel Newton, direktur Bloomsbury awalnya tidak membaca, tapi dia membawa pulang naskah Harry Potter dan memberikan kepada putrinya, Alice yang masih berusia 8 tahun. Beberapa waktu kemudian Alice mengatakan kepada ayahnya bahwa Harry Potter and The Philosoper’s Stone merupakan cerita terbaik yang pernah ada. Nigel bingung tak karuan, namun akhirnya memutuskan menerbitkan karya tersebut pada 1997.

Keputusan dewan redaksi penerbit adalah suara dewa. Walaupun membuat keputusan penerbitan bisa membuat bimbang. Oleh karena itu banyak penulis yang bersedia membayar ongkos cetak ke penerbit kredibel, secara mudah numpang nama. Cara lainnya yaitu menerbitkan buku secara swa atau dikenal self publishing.

Menjadi self publisher sebetulnya gampang jika tujuannya hanya menerbitkan. Cukup dua bulan, penulis sudah menerima ratusan atau ribuan eksemplar, tergantung berapa banyak yang ingin dicetak. Dalam wilayah swa, penyuntingan naskah menjadi tanggung jawab si penulis. Bisa dengan swa sunting ataupun menunjuk seseorang. Begitu pula penyelarasan akhir naskah.

Self publishing kian menggiurkan saat berbicara keuntungan. Penerbit mapan paling-paling bersedia memberi royalti 5 sampai 12 persen dari harga jual. Besar kecilnya ditentukan dari beberapa faktor, dari kualitas karangan hingga nama besar penulis. Kebalikannya, saat penulis berkorban untuk menerbitkan karyanya sendiri , tidak ada yang namanya royalti. Sebab semua keuntungan penjualan mengalir ke kantong penulis.

Namun self publishing harus dilakukan secara hati-hati. Salah langkah, penulis justru bisa terpeleset. Risikonya beragam, dari mulai tidak balik modal sampai kualitas cetakan yang di bawah harapan.

Yang paling penting diingat, ketika meniatkan self publishing, penulis akan berhadapan dengan tiga kondisi. Pertama, penulis adalah pemodal. Penulis juga harus bersikap layaknya penerbit. Dan tidak ketinggalan, penulis adalah penulis.

Tidak ada orang yang menganggap investasi itu mudah, kalau pun bertanya pada Warren Buffet. Investasi tidak menghitung teman, bahkan diri sendiri. Apa dan Berapa yang bisa diperoleh dari kegiatan penerbitan naskah, itu sangat penting. Keuntungan memang tidak selalu soal ekonomi. Tetapi ujung-ujungnya ke sana.

Dalam hal berikutnya, kemampuan membaca peluang dan pasar mutlak dimiliki penulis selaku penerbit. Perhitungan sederhananya, penerbit dikepung komponen biaya. Editing, desain, ongkos cetak, sirkulasi buku, launching, dan permohonan prolog atau testimonial. Tentu saja tidak perlu menghitung royalti, namun yang lainnya membutuhkan ongkos. Kalau toh ada yang ditiadakan hanya yang kelima dan terakhir.

Kontrol kualitas cetakan juga merupakan hal yang krusial dalam penerbitan. Penerbit mayor sudah kenyang pengalaman. Untuk menghitung dan menentukan rupiah dalam tiap halaman bukan pekerjaan sulit. Sementara self publishing, ibarat kucing belajar makan tulang. Mudah sekali menemukan percetakan yang mengoperasikan mesin cetak mutakhir. Namun kualitasnya, ya penulis harus mendalami sendiri. Alternatif lain adalah dengan menghubungi penerbit indie, dengan risiko membayar sepertiga bahkan setengah lebih mahal.

Nah, ketika buku selesai dicetak, yang tidak kalah penting, mau dikemanakan barang itu. Ada kesenangan dalam hati penulis saat pertama kali melihat karyanya terbit juga. Itu dari sudut pandang penulis. Dari perspektif penerbit dan pemodal buku itu wajib terjual sampai laris. Anggap saja setiap eksemplar yang masih mengendap di dalam kardus adalah retur buku.

Maka mari kita bicara penjualan.

Selain punya mental penulis, pemodal, dan penerbit, mental jualan pun wajib dimiliki dalam self publishing. Apakah self publishing harus diakhiri dengan self selling? Bisa ya atau sebaliknya.

Strategi penjualan mau tidak mau melihat sebanyak apa buku dicetak. Bagi para penulis yang bergabung dalam komunitas penulis, self publishing seringkali menjadi jalan keluar. Biasanya penulis komunitas lebih suka bersikap realistis dalam memutuskan berapa buku yang akan dicetak.  Potensi pembeli dihitung lebih dulu demi mendapatkan angka eksemplar yang akurat.

Penjualan buku akan lebih terbuka jika penulis sudah punya nama. Travel blogger punya pasar yang lebih luas, apalagi blog dengan banyak pengunjung. Pasar online lainnya yang bisa dijajaki ialah forum penulis. Dengan syarat sang penulis telah membina hubungan baik dengan anggota komunitas.

Penjualan tidak selalu harus menaruh etalase di depan toko. Selain hard selling, bisa juga ditempuh dengan soft selling atau gabungan keduanya, smart selling. Selebriti media sosial jika diamati punya potensi untuk mengkonversi follower menjadi pembeli. Sah-sah saja jika penulis meng-endorse seleb Instagram maupun vlogger Youtube untuk mengampanyekan bukunya. Pastinya ada anggaran yang dikeluarkan untuk mencoba cara demikian. Model penjualan ini hanya bisa dilakukan untuk buku yang dicetak ribuan eksemplar. Di samping itu jangan terlalu percaya jumlah follower dan impresi konten, karena belum tentu audiens mereka searah dengan karakter produk endorser.

Bisa juga menempuh jalan konvensional, yakni dengan menghubungi distributor buku. Pasarnya tak lain toko buku besar dan menengah. Syaratnya buku harus dicetak banyak, sedikitnya 5000 eksemplar. Toko buku tidak membeli buku, melainkan hanya menyediakan rak. Mereka juga punya pakem baku terhadap buku yang layak dipasarkan, terkait misalnya kualitas cetakan dan materi buku. Namun siap-siap saja berbagi keuntungan dari harga jual. Sebab toko buku bisa meminta setengah dari harga jual tiap eksemplar.

Di luar beberapa contoh tersebut, masih banyak cara penjualan buku self publishing yang patut dicoba. Antara lain memasarkannya di toko buku online, toko-toko buku kecil, meng-endorse blogger buku untuk mereview hingga bekerja sama dengan book café. Mana yang paling strategis, tergantung kematangan analisis. Yang pasti, penerbitan punya strategi. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here