Maria

0
388
Gambar: Istimewa

Maria, bocah berambut lurus itu sedang asik bermain dengan anjingnya, sedari pulang sekolah ia tak henti berlarian dengan anjing itu keliling rumah. Sesekali terlihat ia mengobrol dengan sang peliharaan.

Ketika sedang asik bermain, Maria dikagetkan dengan suara bentakan dari arah dalam rumah, suara yang ia kenal betul, suara yang seharusnya menjadi suara penenangnya, tapi suara itu nyatanya adalah terror. Tiap kali mendengar suara itu melengking tubuh Maria seketika menggigil.

Nampaknya suara bentakan itu bermuara padanya, pada Maria. Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah, yang awalnya senang berlarian dengan anjingnya sekarang menjadi pucat, ia tahu sedang dalam masalah.

Dan benar saja, ternyata ia lupa mengganti pakaian sekolahnya, dan rupanya itu yang menjadi alasan suara bentakan tersebut. Maria ingat ketika pulang sekolah, saat sampai di depan rumah, ia disambut si anjing, secara tak sadar ia seenaknya melemparkan tasnya di sofa ruang tamu dan langsung bermain dengan anjingnya.

Maria menyesal, lagi-lagi ia tak mampu berlaku baik, setidaknya bagi ibunya, sang pemilik suara itu. Maria menyesal tak bisa menjadi anak yang diinginkan ibunya. Ia menyesal seringkali membuat ibunya marah.

Taaaaaaaassss!!!!, sebuah tamparan mendarat di pipinya, perih, tapi ia mencoba menahan rasa itu, sebab ia tahu ia salah, ia harusnya mengganti pakaian sekolahnya dulu sebelum bermain dengan anjingnya.

“anak tak tahu diri!!!, susah diatur!!!, kau kira aku ini pembantumu?!!”, Maria mendengar segala ucapan itu dengan wajah yang menunduk dan kedua kaki yang ditekuk, sehingga dagunya ditopang lutut kaki kanannya. Ia tak berani mengangkat muka, ia takut melihat wajah yang sedang murka di hadadapannya itu.

Satu injakan mendorong tubuhnya terpelanting ke belakang, sekarang seragam putih-merahnya benar-benar kotor oleh tanah dan ada sedikit tai anjing. Maria menekuk tubuhnya ke kiri sambil kedua tanganya menutup muka, nampaknya ia tak kuasa menahan rasa itu, bukan rasa pedih akibat injakan atau tamparan, tapi rasa pedih di lubuknya mengetahui orang yang seharusnya mencintainya, yang seharusnya mendidiknya dengan kelembutan, justru menjadi sosok yang ia takuti layaknya setan yang pernah ia lihat di film.

Sosok yang mestinya menasehatinya dengan hati bukan dengan umpatan atau tamparan.

Maria masih ingat ucapan teman-teman sekolahnya, ia masih ingat kata-kata itu, kata-kata yang mengatakan bahwa ia adalah anak angkat, anak yang diadopsi gara-gara sang pengadopsi tak kunjung mempunyai anak. Ia ingat itu dengan jelas, sejelas rasa sakit di hatinya, tapi ia tetap berusaha untuk tak menggubrisnya, sebetulnya ia ingin menanyakan hal itu pada ibunya, tapi ia sudah bisa menebak jawaban yang akan diberikan ibunya, ia urungkan niat itu.

Tentu bukan kali ini saja Maria menerima kemurkaan dari ibunya, hal tersebut terjadi nyaris setiap hari, ada saja kesalahan yang dilakukan Maria yang membuat ibunya naik pitam. Pernah suatu ketika Maria dikurung digudang selama 2 hari dengan badan yang penuh iritasi akibat hantaman gagang sapu, saat itu kesalahannya karena ia tak mencuci piring sehabis makan, ibunya murka, segala bentuk umpatan si ibu layangkan ke muka Maria, seakan-akan ia sedang berhadapan dengan perempuan yang merebut suaminya.

Bisa dibilang Maria sudah kebal dengan pukulan-pukulan yang ia terima, pernah ia hanya menunduk sembari membiarkan tubuhnya dihantam oleh si ibu, saat itu ia tak merasa sakit, nampaknya ia mulai terbiasa dengan rasa sakit di tubuhnya itu. Namun ia tahu ia bisa saja menahan rasa sakit di tubuhnya, tapi tak akan pernah mampu menahan rasa sakit di suatu tempat di lubuk hatinya, bagaimanapun berusaha ia melawan Maria tetap tak kuasa, selalu saja air mata tiba-tiba berlinang turun membasahi pipi penuhnya.

Maria tahu ia tak bisa berbuat apa-apa, ia rindu pada lelaki tua yang dulu sering membacakannya cerita sebelum tidur, Maria tak tahu di mana gerangan lelaki itu, yang ia tahu hanyalah lelaki itu menghilang ketika semalaman bertengkar dengan ibunya. Ia pernah bertanya  tentang lelaki itu pada ibunya, tapi yang ia terima bukan jawaban, tapi umpatan.

*****

Hari sudah sore, horizon sudah menampakkan warna kesumba. Seperti biasa Maria harus menyapu halaman, sementara itu seperti sore-sore sebelumnya sang ibu bersiap dengan si anjing untuk berkeliling, jalan-jalan sore katanya ketika ditanya tetangga. Beberapa tetangga menganggap kegiatan si ibu itu adalah bentuk mencari perhatian, bentuk tebar pesona pada lelaki-lelaki, si ibu memang mempunyai paras yang menarik pandangan laki-laki, oleh karena itu ia selalu menjadi bahan gunjingan para ibu-ibu sekitar rumahnya.

Si ibu berjalan sembari menampilkan lekuk tubuhnya yang masih padat untuk seumurannya, dengan memegang tali pengikat anjing si ibu tampak sempurna sore itu. Ia bak gadis kerajaan yang sedang berjalan-jalan di taman istana.

Tiba-tiba saja si anjing berlari dengan kencang dan si ibu tak mampu mengendalikan anjing itu, anjing tersebut seakan menemukan sesuatu, si anjing lalu berbelok ke arah jalan, dan tentu saja si ibu harus mengikutinya dengan terpaksa, sebab si anjing seakan menariknya, saat itulah sebuah mobil yang melaju kencang dari arah belakang menabrak tubuh si ibu sekaligus anjingnya. Jelas dengan tubrukan sekencang itu korbannya pasti tak selamat. Darah mengalir deras di kepala si ibu, tubuhnya tak lagi bergerak, sepintas seperti remuk akibat hantaman tersebut.

Maria panik berlarian ke arah jalan ketika mengetahui adanya tabrakan dari teriakan tetangga, sesampainya di lokasi kejadian, seketika tubuhnya ambruk dengan lutut meninju aspal, air matanya mengalir tak terbendung, kesedihan yang mendalam menyerang jiwanya, ia sadar saat ini ia sendirian, di dunia yang tak pernah ia inginkan. Dengan kedua tangannya Maria mengangkat tubuh si anjing dan memeluknya seerat-eratnya. (Risal Syam)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here