Geger Budaya dalam Film Brooklyn

0
917
foto: hiff.org

OnWeekend – Film Brooklyn merupakan adaptasi dari novel karangan Colm Toibin, yang dibuat pada tahun 2009 dengan judul yang sama. Film ini boleh dikatakan cukup sukses, karena berhasil mengangkat kehidupan penceritaan di dalam novel tersebut. Bagaimana tidak, film yang dirilis pada tahun 2015 ini mampu menampilkan kisah yang gamblang tentang usaha seorang gadis yang bernama Eilis Lacey (Saoirse Ronan) untuk mengubah nasib kehidupannya dengan berhijrah ke Amerika dari negara asalnya, Irlandia, di sekitar tahun 50’an.

Seperti kita ketahui, di tahun-tahun tersebut, yakni pasca perang dunia kedua, Amerika memang mengalami masalah dengan banyaknya imigran yang datang. Permasalahan imigran ini tentunya bukan hanya dialami oleh negara yang dituju, akan tetapi juga menjadi masalah tersendiri bagi para imigran ini. Salah satu masalah yang umum terjadi adalah proses adaptasi mereka terhadap lingkungan yang baru.

Di film ini pun sedikit banyak menceritakan masalah tersebut. Dimana Eilis, seorang gadis yang polos namun cerdas, yang memilih untuk berimigrasi, kemudian mengalami berbagai macam proses dan rangkaian adaptasi agar bisa bertahan hidup, diterima, serta menerima budaya setempat. Karena ini adalah sebuah keharusan yang dilewati bukan hanya bagi Eilis, tetapi juga dilakukan para imigran lain di negara baru tempat mereka mengadu nasib. Maka, sudah selayaknya ada pengejawantahan terhadap masalah ini, tentunya hal tersebut telah dianalisis dan menjadi sebuah teori oleh para antropolog atau sosiolog, dan salah satu yang termasyhur tentunya teori adaptasi oleh Kalervo Oberg.

Oberg menjabarkan persamaan-persamaan yang akan dihadapi bagi siapapun yang tinggal di tempat baru, orang-orang ini akan mengalami cultural shock atau lazim disebut sebagai geger budaya.

Geger budaya merupakan peristiwa dimana seseorang akan merasa terasing di tempat yang baru ia kunjungi dikarenakan adanya perbedaan budaya. Tanda-tanda atau simbol sosial dari tempat kita berasal akan mengalami banyak benturan serta perubahan di tempat yang baru. Perbedaan-perbedaan ini, menurut Oberg, akan memberikan kita kegelisahan tersendiri, yang jika kita tidak mampu menghadapinya kita akan merasakan stress, nervous breakdown dan homesick. Oberg membagi keadaan Gegar budaya ini menjadi beberapa fase : 1. Fase Honeymoon (bulan madu), 2. Fase Gegar budaya. 3. Fase adaptasi berjalan, 4. Fase “Feeling at home” .

Fase Honeymoon

Fase ini adalah fase yang menarik, hari-hari orang yang tinggal di tempat baru akan dipenuhi dengan memperhatikan lingkungan sekitar yang berbeda dari tempat lamanya. Disebut seperti bulan madu karena ini fase yang membahagiakan. Orang-orang yang mengalami layaknya turis asing yang senang karena perbedaan-perbedaan baru, senang terhadap suasana dan tempat yang baru, dan cenderung bersifat menerima perkenalan budaya ini sebagai hal yang positif. Umumnya, pada fase ini semua beranggapan bahwa tinggal di negara atau tempat yang baru bukanlah perkara yang besar, semua memiliki keyakinan bahwa mereka dapat beradaptasi dengan baik.

Di dalam film ini ada beberapa adegan yang menunjukkan fase honeymoon seorang Eilis muda di Brooklyn. Pada bagian awal film, ketika Eilis masih berada di Irlandia, sebuah kota tempat dia tinggal ditampilkan gelap, temaram dan tanpa semangat hidup. Keadaan kota tersebut kemudian dikontraskan dengan salah satu scene, dimana Eilis berada di Amerika, tepatnya saat masih check point terakhir sebelum benar-benar menginjakkan kakinya ke tempat baru ini. Saat Eilis membuka pintu check point terakhir itu terlihat bagian luar dari tempat itu penuh dengan cahaya yang menyilaukan, memberi kesan semangat serta pengharapan yang baik di masa depan.

film brooklyn
Eilis membuka pintu check point terakhir

Lalu di adegan lainnya, saat Eilis terlihat sedang mendongakkan kepalanya untuk melihat gedung-gedung yang tinggi menjulang di kota tersebut. Untuk pertama kalinya Eilis berangkat ke tempat kerja di toko Bartocci. Tidak seperti pejalan kaki lainnya yang fokus melihat jalan, Eilis jelas sekali terkesima dengan perbedaan yang ditampilkan.

Film Brooklyn
Eilis terlihat sedang mendongakkan kepalanya untuk melihat gedung-gedung yang tinggi menjulang

Fase gegar budaya

Fase ini adalah fase tersulit, hal yang nampak indah pada awalnya akan berlangsung pudar. Segala perbedaan yang dimiliki dari tempat baru semakin memperparah situasi. Perasaan rindu kampung halaman semakin menguat, ada juga anggapan yang muncul bahwa tempat baru ini tidak seramah seperti di rumah.

Pada fase ini umumnya orang-orang membutuhkan bantuan dari orang yang memiliki kesamaan kampung halaman. Ini cara mereka bertahan, mereka mencoba untuk berinterakasi dengan orang-orang yang dianggap senasib sepenanggungan di wilayah asing, atau juga ada yang memilih berkomunikasi jarak jauh dengan keluarga atau sahabat di kampungnya masing-masing.

Seperti dikatakan Oberg dalam bukunya yang berjudul Cultural Shock: Adjustment to New Cultural Environtments “This second stage of culture shock is in a sense a crisis in disease. If you overcome it, you stay; if not, you leave before you reach the stage of nervous breakdown.” Kurang lebih berarti, dalam fase krisis ini jika kita mampu melaluinya maka kita akan bertahan, namun jika tidak bisa maka kita akan memilih untuk pulang sebelum mengalami gangguan mental yang lebih parah. Eilis mengalami fase ini pada saat ia membaca surat dari Ibu dan kakaknya. Hari-harinya dihabiskan dengan membaca surat-surat tersebut, hingga tiba di satu momen kesedihannya memuncak di tempat dia bekerja. Pada saat itulah Eilis dikunjungi oleh pastur Flood (Jim Broadbent), pastur tersebut menderita, tetapi nanti akan berpindah ke orang lain.” Lalu Eilis pun mengangguk setuju. Pertemuan dengan pastur Flood ternyata memberikan hasil yang positif, Eilis secara perlahan mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Momen lainnya yang terekam adalah saat jamuan makan bersama di hari Natal, bertempat di sebuah gereja di Brooklyn. Saat itu, Eilis diminta hadir sebagai relawan untuk memberi makanan gratis bagi para tunawisma dan orang-orang miskin yang berasal dari Irlandia. Di pertengahan acara, salah seorang tunawisma itu menyanyikan lagu tradisional Irlandia yang begitu menyayat hati berjudul Casadh an tSugain. Para imigran yang berkumpul di tempat itu pun semuanya terdiam pilu mendengarnya, Eilis pun tampak meneteskan air matanya. Peristiwa ini adalah sebuah momen kebersamaan, perasaan rindu kampung halaman yang melebur bersama kesedihan kelompok. Namun, ditutup oleh tepuk tangan meriah dan pesta makanan menandakan kebahagiaan dapat diperoleh dengan eratnya persaudaraan di tanah asing mereka.

Fase Adaptasi

Fase ini adalah fase perubahan perilaku, dimana para pendatang secara perlahan mulai  mau untuk memahami, menerima, bahkan meniru segala tingkah laku dari budaya di tempat mereka berdiam. Pada proses meniru ini (coping) sebenarnya merupakan proses penyembuhan (recovery). Pada bentuk penyembuhan ini, penerimaan budaya baru yang masuk haruslah didorong oleh terbukanya cakrawala berfikir dan berperilaku di sana.

Salah satu adegan yang memperlihatkan perubahan Eilis di film ini adalah ketika atasan tempatnya bekerja senang melihatnya lebih baik dalam melayani tamu “Eilis, kau tampak berbeda! Bagaimana cara kau melakukannya? Mungkin saja bisa aku jadikan saran untuk para gadis lainnya.” Eilis perlahan mulai bisa menerima segala perubahan yang dia hadapi, salah satu tandanya dia sudah mulai nyaman dengan tempat barunya ini. Salah satu alasan Eilis tampil lebih ceria karena dia telah memiliki kekasih yang bernama Tony Fiorello (Domhnall Gleeson). Dengan memutuskan untuk memiliki kekasih, berarti petanda bahwa Eilis mulai memasuki fase nyamanya.

Bukan hanya itu saja, Eilis pun mulai mengubah penampilannya. Sekarang, Eilis sudah lebih memperhatikan dirinya, dia memakai make-up dan tampak lebih segar dari sebelumnya. Perubahan cara berpakaian ini pun merupakan proses adaptasi yang dilakukannya untuk mengobati gegar budaya yang ia alami sebelumnya.

Eilis dalam film Brooklyn

Fase “Feeling at Home”

Fase ini merupakan fase terakhir, dimana proses adaptasi berjalan mulus atau tanpa kendala berarti. Dalam fase ini seseorang tidak lagi menganggap tempat asing yang ia tempati sekarang adalah benar-benar asing. Tempat tersebut telah menjadi rumah baru bagi orang yang mengalami fase ini, mereka juga meyakini bahwa segala budaya yang berasal dari tempat tersebut, juga merupakan budaya mereka sendiri. Fase terakhir ini juga menandai bahwa gegar budaya yang dialami sebelumnya telah berakhir, malahan banyak orang yang memilih menggunakan budaya mereka yang “baru” ini untuk merepresentasikan jati diri mereka.

Ada beberapa hal menarik saat Eilis kembali kekampung halamannya di Irlandia untuk menghadiri prosesi pemakaman kakak perempuanya, yaitu Rose yang meninngal karena sakit (Fiona Glasscott). Eilis yang datang bukanlah Eilis yang pendiam, kurang pergaulan dan selalu minder seperti sebelumnya. Sekarang Eilis tampil lebih modis, lebih cekatan dan lebih ceria. “Kau tampak begitu glamor!” ujar Nancy (Eileem O’Higgins) sahabatnya, yang langsung ditimpali oleh ibu Eilis yaitu Mary (Jane Brennan) “Aku juga bilang begitu.”

Review film Brooklyn

Tentunya perubahan perilaku dan cara berpakaian bukanlah satu-satunya hal yang berubah dalam diri Eilis, cara dia berfikir untuk hidupnya pun berubah. Jika dulu dia menjadi imigran ke Amerika karena keterpaksaan untuk mendapatkan penghasilan, sekarang memilih untuk kembali ke Amerika karena di sanalah masa depannya, rumahnya berada. “Aku akan tinggal di Brooklyn, New York. Kau tahu dimana itu?” Ujar seorang gadis muda yang tampak seperti Eilis sewaktu pertama kali melakukan perjalanan ke Amerika. “Banyak yang bilang di sana terdapat banyak orang Irlandia. Seperti di rumah. Apa itu benar?” Eilis pun menjawab dengan tersenyum “Ya, Seperti di rumah.”

Rumah merupakan tujuan akhir dari setiap orang yang melakukan perjalanan, terlepas dari pengertian apakah rumah tersebut tempat asal muasal kita atau bukan. Setiap fase adaptasi yang dilewati oleh Eilis sedikit banyak mengajarkan hal tersebut. Bahwa banyak kebahagian dan ketenangan itu justru bukan terletak pada zona nyaman kita, tapi pada proses yang kita jalani. Karena, seperti juga Eilis, setiap orang berhak dan bisa menemukan “rumah” yang sama indahnya.

 

Aditya Permana (Kontributor)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here