Falcon Meradang Atas Pembajakan Warkop Reborn: Jalan Buntu Menuju Roma

0
383
Warkop DKI Reborn, foto: ist

OnWeekend – Menangkap pencuri itu lebih mudah dari mencegahnya masuk ke rumah kita. Kalimat ini pantas disematkan langsung ke pihak Falcon Pictures yang tampak kebakaran jenggot dengan live streaming Warkop DKI Reborn: Jangkrik Bos Part 1 yang dibocorkan sebuah akun di Bigo Live. Pembajakan adalah fenomena yang tidak bisa diselesaikan melalui jalur hukum. Kenapa kita sulit menerima kenyataan kalau Indonesia itu surga pembajakan.

Film Warkop Reborn sebetulnya biasa-biasa saja, kecuali pemasarannya yang sangat getol. Sejak dua bulan pre launching Falcon sudah menggeber promosi di berbagai platform, dari media cetak sampai media sosial. Trailer Warkop Reborn di Facebook menembus 11 juta kali penayangan, hampir semuanya konten berbayar. Saya empat kali menonton trailer itu sebelum memutuskan tidak akan menontonnya di bioskop karena kualitasnya.

Mengatasnamakan legenda itu sulit. Alih-alih sukses, penggarap film reborn malah dianggap minim kreatifitas. Falcon baru saja mengumumkan angka 1 juta penonton untuk film ini. Hasil yang baik, walaupun masih perlu dipertanyakan faktor apa yang begitu kuat menjual film tersebut, nama besar Warkop atau kualitas fimnya.

Arahnya bisa ditebak. Sekali laris, Falcon segera mengumumkan bakal merilis part 2. Mungkin tahun depan atau paling lama 2 tahun. Maka untuk mengamankan skuel kedua rumah produksi itu harus meringkus si pembajak.

Dengan alasan apa pun, pembajakan adalah sebuah kejahatan. Di sisi lain, sampai kapan pun pembajakan akan tetap berlangsung. Namun apakah pembajakan bisa diakhiri hanya dengan memidanakan pelaku?

Industri musik sudah kenyang betul diracuni pembajakan. Perusahaan rekaman dan artis banyak yang putus asa mencari uang di jalur tersebut. Mereka pernah memanfaatkan celah komersil seperti penjualan paket ayam berhadiah cd album atau RBT ponsel. Itu pun tak berlangsung lama. Musik akhirnya kembali mencari nafkah dari jalur off air.

Belakangan, aplikasi musik semacam iTunes, Spotify atau Joox membawa kesegaran baru industri musik. Dari dalam negeri kita juga pernah mengenal Melon, walaupun napasnya tersendat-sendat. Musik juga masih bisa memanfaatkan celah dari royalti karaoke maupun soundtrack. Di Youtube peluang mengumpulkan dolar bahkan terbuka lebar. Mengutip Jokowi, semuanya ada, tinggal kerja, kerja, kerja.

Film berbeda dengan musik. Orang mendengarkan musik di kantor, tetapi tidak menonton film, kecuali pekerja yang kelebihan waktu. Tetapi bukan tidak mungkin mengeruk pendapatan bioskop. Aplikasi penyedia film iFlix salah satunya yang menawarkan kesempatan itu. Kalau mau capek, rumah produksi juga bisa membuat situs resmi untuk menayangkan film berbayar, asalkan dengan tarif yang memungkinkan.

Lha, kalau PH masih mempertahankan mindset bioskop, kapan menangnya terhadap pembajakan. Apa yang dilaporkan Falcon baru satu kasus. Bagaimana dengan DVD bajakan? Toh, film hanya salah satu hiburan yang tidak terikat dengan aktualitas. Tidak ada bedanya menonton film baru rilis sekarang atau dua bulan kemudian.

Mengutip Rhenald Kasali, suatu produk atau bisinis baru akan berkembang ketika pebisnisnya tahu dan bisa memanfaatkan semua instrumen. Secara kasat mata Commuter Line bisa mudah bangkrut dengan memberikan tarif Rp 2000 untuk 25 km. Tetapi mereka dengan pintar memanfaatkan begitu banyak ruang sebagai tempat promosi yang potensial. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here