Dekonstruksi Warkop dan Kompetisi Makanan Kolosal

0
766
Secangkir kopi
Kopi, foto: dok

OnWeekend – Jika Warkop DKI sudah di-reborn dan sukses ditonton empat juta lebih pemirsa bioskop, warkop dalam arti lain (warung kopi) telah lebih dulu didekonstruksi. Meminjam istilah sesungguhnya dari Jacques Derrida, makna sebuah teks harus dilebur secara horizontal demi menggali makna baru. Begitulah kelahiran warkop era baru. Bukan makanannya, melainkan citra dan model bisnis. Selamat datang warkop kekinian.

Ide dasarnya hanya mendobrak kejumudan dari usaha mamang-mamang yang datang dari Tanah Pasundan. Bekalnya sentuhan interior serta modifikasi menu, dan simsalabim! Semangkuk mie instan dan es teh lemon terangkat pamornya seketika.

Mahasiswa di Yogyakarta, Solo, Bandung, Jakarta sekali pun barang pasti kenal betul dewa penolong yang satu ini. Betapa tidak, dengan isi kocek tak lebih dari Rp 10 ribu sudah bisa memfasilitasi “aksi damai” dari area usus besar yang minta diisi sejumput kalori. Itu pun bisa memilih secara demokratis, mau burjo (bubur kacang ijo), roti bakar atau mie instan telur.

Tidak ada warkop yang sama, setidaknya satu daerah dan daerah selebihnya. Para mamang sungguh paham bagaimana memoles usahanya, tergantung di mana bumi dipijak. Itu bukan sekadar pepatah. Ada warkop yang menyediakan menu nastel alias nasi telur. Ada pula warkop merangkap warung bakso lengkap dengan dessert es campur dan es teler. Sementara yang lain menjual bubur ayam, warkop yang berbeda menyajikan gorengan jumbo.

Pendek kata mamang sudah melakukan analisis pasar untuk menentukan penawaran yang akurat berdasarkan permintaan. Analisis itu digarap menggunakan metodologi yang komprehensif, meliputi kondisi lingkungan sekitar, produk kompetitor, selera konsumen, hingga catatan kasbon pelanggan. Mereka mengumpulkan data tersebut ditambah tatap muka dan insting bisnis yang jeli. Hasilnya jelas, warkop adalah salah satu jenis usaha yang langgeng dan tahan krisis ekonomi, sebab para mamang sudah terlatih sekaligus terampil mengambil keputusan bisnis.

Namun bisnis tak pernah tidur. Itu sahih. Aktifitas boleh jeda selagi tutup toko, tetapi para pebisnis berinovasi dalam mimpinya. Ribuan pembaharuan muncul saban tahun, dipraktekkan untuk berjuang menghadapi seleksi alam. Mulai dari ponsel, komputer, kamera, senjata, hingga jajanan macam cireng dan tahu bulat. Tidak ada pengecualian untuk urusan inovasi bisnis, termasuk warkop.

Entah siapa yang lebih dulu memulai, makanan kolosal pengobat tanggal tua seperti mie instan saja dihadang kompetitor. Sekali muncul tidak masalah. Bagaimana kalau sudah berkembang biak 10, 50, 100 dan jadi jamur musim hujan? Sangat mungkin hal ini jadi mimpi buruk.

Kompetitor selalu datang dengan data mutakhir, juga modal yang mapan. 20 tahun silam warung kelontongan tenang-tenang saja mengetahui bangunan yang berada tak jauh dari usahanya berubah menjadi mini market. Orang-orang berpikir alangkah repot membeli sekantong deterjen tanpa dilayani, kemudian antre dan berhadapan dengan komputer. Sekarang orang rela mengantre demi satu pak cotton buds.

Warkop bukan tak mungkin bernasib serupa. Setahun lalu warkop dengan menu mie instan mirip bungkusnya menjadi viral di kalangan muda. Berbondong-bondong mereka mendatangi tempat tersebut. Tujuannya rata-rata adalah 3P, yaitu penasaran, pengalaman, pelaporan (di media sosial). Ketiga hal itu sama pentingnya, dan pebisnis menangkapnya sebagai peluang bagus. Dekonstruksi berawal di sini.

Contoh inovasi makanan rakyat bisa dilihat dari tren kue pukis. Bagaimana mungkin jajanan generasi 1990an yang dulu hanya berkutat di pasar tradisional dan luar pagar sekolah kini naik kasta ke dapur restoran. Ketika pukis aneka rasa naik daun, penjual kue pukis klasik menyusut. Yang masih eksis pun hanya berkutat dengan gerobak dan adonan yang nasibnya tak tentu.

Di kawasan Tebet, Jakarta Selatan berdiri sebuah kafe warkop trendi. Bangunan dua lantai, desain interiornya apik dan mewakili anak muda. Menunya beragam, tapi yang utama mie instan. Harganya sudah tentu berlipat-lipat. Namun untuk tujuan 3P hal itu bukan masalah. Kalaupun harus mencari alasan untuk kunjungan kedua, bisa menambahkan P yang terakhir, yaitu prestis. Sebab warkop trendi biasanya memenuhi kelayakan sebagai materi postingan alias Instagramable dan Pathable.

Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa dilakukan selain menunggu pembuktian dalil Michael Porter soal kompetisi. Intensitas kompetisi, potensi pendatang baru, daya tawar produsen dan pembeli, dan ancaman produk baru akan menjadi unsur yang menentukan siapa yang terangkat, siapa terguling.

Namun tetap saja, apa pun hasilnya, pemenangnya pabrik mie instan. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here