Cassandra De Pecol, 196 Negara, 17 Bulan

0
594
Cassandra De Pecol
Cassandra De Pecol, foto: gtp.gr

OnWeekend – Setahun mengenyam bangku pendidikan di Long Island University, Costa Rica membuat Cassandra De Pecol memahami arti penting pariwisata. Dalam waktu yang singkat ini perempuan berpaspor Kanada dan AS itu menjelajahi hutan Amazon dan sejumlah wilayah lain di Benua Amerika. Cassandra tertarik pada konsep Pariwisata Berkelanjutan (Sustainable Tourism). Pariwisata, menurutnya dapat memberi sumbangsih bagi hal-hal penting di dunia, seperti ekonomi, ekologi, bahkan perdamaian.

Dia kemudian lompat ke Green Mountain University (GMU), Poultney, Vermont, AS. Ini merupakan perguruan tinggi yang fokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan. Di tempat ini Cassie (nama panggilannya) semakin mengasah ketertarikannya pada bidang itu. 3,5 tahun masa studinya berjalan, namun Cassie justru meninggalkan pendidikannya. Rupanya dia lebih tertarik keliling dunia. Orang-orang terdekatnya bertanya-tanya, kenapa dia begitu nekad melakukan hal itu.

Betapa tidak, Cassie hanya menyimpan 2000 dolar AS di buku rekeningnya. Hanya dengan mengurus visa, membekali perlengkapan dan membeli tiket pesawat, uang segitu mustahil berbekas. Namun tekadnya mengalahkan realitas. Wanita yang kini berusia 27 tahun itu mulai melangkah pada awal Juli 2015.

Jalan Cassie terbuka ketika dia membicarakan misinya pada simposium International Institute of Peace Through Tourism (IIPT), sebuah organisasi nirlaba yang berkantor di Johannesburg, Afrika Selatan. Kesimpulannya, perlu diadakan program untuk mengidentifikasi potensi pariwisata dengan tujuan rekonsiliasi dan peningkatan ekonomi. Cassie terpilih sebagai duta program itu. Dengan kata lain, tak perlu ada lagi kekhawatiran soal biaya.

Tujuh bulan kemudian perempuan penekun fitnes ini telah mengelana ke 85 negara. Mengulas keputusan yang diambil dalam hidupnya, dia berkata, “Hari ini orang-orang berkata kepadaku untu menyelesaikan. Menyelesaikan apa? Untuk menyelesaikan tugas kuliah, mendapat pekerjaan?”

Cassie menegaskan belum menemukan satu pun alasan untuk “finish”. Dia melihat cakrawala dunia yang maha luas dan segudang pengalaman yang tak bisa lagi diungkapkan lewat kata. 85 negara dan 6 benua dalam satu semester.

“Perjalanan ini membuka mataku untuk mendapat pengalaman yang tidak bisa kuperoleh di bangku kuliah,” ujarnya.

Di sejumlah negara Cassie menghadiri undangan pertemuan dengan departemen pariwisata setempat. Tak jarang pula dia mengisi kuliah umum atau simposium tentang pariwisata berkelanjutan. Itu betul-betul pengalaman yang langka, meskipun dirinya bukan orang pertama yang pernah keliling dunia. Rekor traveling sebelumnya dicatat Alan Liu pada 2010 dalam waktu 3 tahun, 3 bulan, 6 hari.

Namun besar kemungkinan Cassie melampaui rekor dunia tersebut. Rencananya perjalanan ke 196 negara itu akan rampung selama 17 bulan atau pada Desember 2016. Kebetulan wanita ini punya cukup kebugaran untuk mewujudkan hal itu. Tak cukup fitness, Cassie juga berlatih beladiri Israel, Krav Maga untuk latihan fisik dan tentunya bertahan.

“Fitnes adalah bagian utama dalam ekspedisi ini dan aku selalu memikirkannya setiap hari,” ujarnya.

Yang menarik, Cassie juga mengunjungi beberapa negara “kontroversial” seperti Palestina, Kosovo, dan Taiwan. Barangkali wanita ini tak ambil pusing dengan fakta politik, meskipun sadar atau tidak dia sedang berpolitik lewat jalur pariwisata. (berbagai sumber)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here