Cara Mendapatkan Liburan yang Kaya Budaya

0
425
Gua Sunyaragi di Cirebon
Gua Sunyaragi, Cirebon, memiliki dua mitos sekaligus yang di percaya oleh masyarakat sekitar sejak dulu, foto: dok.

OnWeekend – Apakah liburan kamu selanjutnya itu pergi ke sebuah kota yang besar, ke pantai atau ke suatu tempat seperti pedesaan, atau kamu mau mencoba sesuatu yang baru? kenapa tidak! Memenuhi liburan kamu dengan mengunjungi hasil kebudayaan di tempat tujuan destinasi merupakan hal baru yang patut dicoba.

“Bersentuhan langsung dengan budaya lokal dapat memperkaya dan menunjukkan kita tentang dunia diluar dunia kita sendiri”. Kata Ashish Sanghrajka, presiden dari Big Five Tours & Expeditions, Stuart, Fla,- perusahaan travel yang memiliki spesialisasi liburan ke tempat budaya, seperti dikutip dari nytimes.com.

Tetapi, untuk mendapatkan liburan budaya, juga perlu rencana yang matang. Jika tidak, liburan ke tempat budaya tersebut malah akan menjadi liburan yang dibuat-buat dan terkesan sambil lewat saja tidak terlihat sungguhan.

Untuk mempersiapkan liburan yang bernuasa kultural, berikut beberapa tips buat kamu agar menikmati liburan yang lebih terarah.

Tinggalkan paket wisata kelompok

Paket wisata kelompok tidaklah ideal untuk tujuan wisata budaya “Paket Kelompok wisata memiliki agenda yang sudah tersusun dari awal, jadi sangat kecil peluangnya untuk  merubah agenda tersebut, karena semakin banyak agenda yang telah disusun semakin pula terlihat dibuat buat wisatanya” kata Sanghrajka.

Jadi, Sanghrajka menyarankan untuk menggunakan jasa penasihat wisata yang lebih mengetahui tentang tujuan wisata budaya atau yang pintar mencari celah untuk berkunjung ke tempat wisata dalam liburan tersebut. Selain itu, kamu juga dapat membuat agenda wisata berdasarkan bacaan dari buku sejarah tempat itu atau dengan sedikit melakukan penelitian.

Meminimalisir agenda kunjungan

Tanpa rancagan agenda, kamu dapat lebih banyak punya kesempatan untuk jauh menjelajah kultur lokal tersebut lebih mendalam. Daripada misalnya, memesan paket tur wisata kuliner di Barcelona, jauh lebih baik pesan seorang pemandu dari perusahaan lokal disana yang mengerti benar tentang makanan ditempat itu, dan minta ke pemandu tersebut untuk mengantarkan kamu menuju restoran favorit ditempat tersebut.

Dengan memiliki rencana yang tidak terlalu spesifik memberikan banyak sekali kekayaan budaya yang didapat.

Sebagai tambahan, di negara berkembang , tur di pedesaan yang menggunakan jasa wisata, walaupun sangat digandrungi, bisa menjadi terlalu dibuat buat. Lebih baik mengelilingi desa desa kecil tersebut seorang diri. Di Rajastan, India sebagai contohnya, Sanghrajka lebih suka tinggal didaerah pinggir kota dan memilih untuk bersepeda keliling desa tersebut.

Pilih penginapan yang dikelola oleh penduduk lokal

Peralatan yang mewah dan megah tidak akan memberi kamu kenikmatan dalam berwisata budaya. Tetapi jika tinggal di sebuah tempat seperti hotel kecil yang dikelola oleh penduduk lokal, yang mungkin bekas rumahnya, tempat bersejarah atau  memang rumah penduduk akan memberikanmu efek budaya itu sendiri.

Seperti yang dicontohkan oleh Sangrajka yang beberapa waktu ini tinggal di Saruni Semburu, camp safari di utara Kenya yang dimiliki oleh sepasang keluarga yang juga tinggal disana dan memiliki karyawan dari suku lokal Semburu disana.

Karena hotel hotel kecil ini tidak memiliki uang yang banyak untuk pemasaran , maka kamu harus lebih sedikit kerja keras dalam mencarinya- bisa dilihat di blog travel atau mungkin di buku buku travel ataupun bisa ditanyakan saja ke pemandu wisata.

Lewati tempat yang terkenal

Jauhi rute di mana kapal kapal pesiar biasanya merapat, sebaiknya pergi ke pulau pulau yang lebih kecil dan kurang terkenal di mana kita dapat berinteraksi secara budaya sambil tetap menikmati indahya laut.

Di Indonesia banyak pulau-pulau yang masih dihuni oleh penduduk lokal dan memiliki pantai yang bagus. Selain itu, juga banyak daerah-daerah di Indonesia yang memiliki hasil kerajinan khas penduduk lokal yang asik untuk dikunjungi. Jadi, tak perlu kamu mampir ke tempat yang sudah mainstream, karena di sana kamu belum tentu menemukan nilai budaya. (*)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here