Bepergian Sebagai Seorang Introvert

0
1803
Bepergian sebagai introvert
Bepergian sebagai introvert, foto: huffingtonpost

OnWeekend – Sekitar sepertiga dari populasi dunia adalah introvert—yang salah satunya adalah penulis artikel ini. Introvert adalah orang-orang yang mengenali dirinya sebagai pendiam dan tipe yang cenderung reflektif. Orang-orang introvert melihat dunia dengan kacamata yang berbeda dari orang yang suka bergaul—atau diistilahkan sebagai social butterflies.

Sementara social butterflies ini bekerja hingga larut malam, kami orang-orang introvert meringkuk di kasur membaca buku, bersantai sebelum mengunjungi museum keesokan harinya.

Ada banyak konotasi negatif yang dilekatkan dengan sifat introvert. Bagi mereka yang tidak menjalani hidup sebagai introvert cenderung tidak memahami mengapa penting bagi kami untuk menghabiskan waktu sendiri setiap saat. Mereka dapat menyimpulkan bahwa kami adalah orang-orang yang kesepian dan anti-sosial, atau mengira kami adalah orang-orang tinggi hati yang sebetulnya tidak tipikal.

Bagi saya sendiri, menjadi introvert bukan persoalan menjadi seorang yang pemalu atau tidak percaya diri dalam berbagai situasi sosial. Tidak selamanya juga merasa nyaman dengan sifat tersebut. Saya sendiri menikmati bertemu dengan orang baru dan mendengar cerita mereka.

Namun, pergi ke bar yang berisik di mana saya harus berteriak melebihi suara musik untuk berbincang dengan orang lain bukanlah malam yang menyenangkan. Saya lebih suka berbincang dalam nuansa yang lebih intim dengan teman dekat.

Saya dapat memahami mengapa konsep traveling terasa menakutkan bagi orang-orang introvert. Traveling itu sendiri lekat dengan stereotip seseorang yang bepergian adalah tipikal young, carefree, dan party type. Stereotip itu mungkin banyak ditemui di jalan, tapi bukan berarti menjadi persyaratan tipe kepribadian.

Traveling sendirian dapat menjadi sesuatu yang cocok bagi seorang introvert.

Kami Nyaman Bepergian Tanpa Ditemani

Ketika seorang ekstrovert merasa perlu dikelilingi oleh orang banyak, kami sebaliknya berada di posisi sebaliknya dan cenderung menghabiskan waktu sendirian. Empat jam menelusuri daerah pedalaman di dalam bis sendirian adalah waktu terbaik untuk berefleksi sepanjang perjalanan dan mengamati segala sesuatu yang ada di sekitar kami, atau untuk sekedar menikmati kesempatan membaca buku dan mendengarkan musik

Kami Terbiasa Mandiri

Bepergian berarti kami harus mengandalkan penilain diri sendiri dalam banyak kesempatan, seperti merancang rute perjalanan, perbekalan, memesan transportasi dan akomodasi, dan memastikan keselamatan diri. Di perjalanan, tidak akan ada wajah-wajah familiar untuk membantu, meskipun kami bukanlah tipe yang bergantung dan dapat mengurus diri sendiri.

Tidak Sulit Untuk Menemukan Keseimbangan Sosial

Tentunya kami menikmati waktu-waktu sendirian. Namun itu tidak berarti kami adalah ‘makhluk gua’ yang hidup sendirian dan menghindari dari semua interaksi dengan manusia. Kenikmatan yang didapat dari bepergian adalah ada banyak kesempatan baik yang tersedia bagi kami untuk pergi keluar dan bersosialisasi—yang mana itu berarti tiba waktunya kami merasa membutuhkan teman pendamping.

Tidak sulit untuk menjadi seorang yang asyik bersama teman. (Sebagai catatan, saya membuka website couchsurfing.com atau meetup.com, mencari acara-acara di kota. Jika saya menyukai acaranya, saya akan datang ke sana)

Kami Membuat Hubungan Teman Dekat

Ketika kamu bepergian, kamu akan bertemu dengan berbagai macam orang baru. Tentu, interaksi yang terjalin relatif singkat dan datar. Tidak setiap orang asing yang kamu temui atau yang berbagi secangkir kopi akan menjadi teman sepanjang hidup. Sebagai introvert, meskipun kami cenderung selektif memilih dengan siapa akan berbagi waktu, seringkali kami bertemu dengan seseorang yang spesial.

Meskipun saya cenderung seorang wallflower (istilah bagi seorang penyendiri), daripada seorang social butterfly, kami orang-orang introvert membangun hubungan yang dalam. Saya sendiri mendapatkan teman dekat ketika bepergian.

Selama ini, saya merasa harus meminta maaf atas sifat diri yang introvert, berusaha menyembunyikannya atau memaksa diri untuk pergi keluar di saat sedang tidak ingin. Dengan banyak hal terjadi, saya menyadari bahwa yang terpenting adalah menerima apa adanya sebagai introvert, menjalani hidup dan bersosialisasi dengan cara sendiri.

Bagaimana menurutmu? Pernahkah kamu bepergian sebagai seorang introvert? (Sumber: huffingtonpost.com)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here