11 Buku Fiksi Terbaik Tahun 2016

0
2437
Novel The Sellout
Novel The Sellout, foto: huffingtonpost.com

OnWeekend – Dari miliaran percobaan dengan kriogenik sampai membahas Shakespear yang diceritakan oleh sebuah janin, kesemuanya terangkum kedalam novel-novel terbaik ditahun ini.

Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh dengan karya literatur, dimana para pembaca disuguhi dengan banyaknya novel yang datang baik dari para penulis ternama atau juga dari pendatang baru. Novel-novel baru ini banyak berdatangan dari Man Booker Phanteon (Penerbit), ditulis oleh penulis seperti Paul Beatty, Howard Jacobson, Zadie Smith, Margaret Atwood, Yann Martel, Ian McEwan dan Julian Barness yang akan menjadi pembahasan diartikel ini. Si yang tak pernah lekang oleh waktu Don Delillo juga akan menerbitkan karya terbarunya, Zero K yang utopis. Dari novel tentang para janin sampai novel tentang dunia persaingan, inilah beberapa novel fiksi terbaik ditahun 2016.

  1. Nutshell oleh Ian McEwan

Di novel yang aneh sekaligus luar biasa ini, menceritakan kembali kisah Hamlet lewat perspektif sebuah janin-janin yang fasih, berfikir secara mendalam yang mirip sekali dengan sosok pangeran Denmark karena suka plin-plan dan terlalu banyak bercakap. Sangat menjabarkan kegelisahan kisah Hamlet itu sendiri, Janin ini menghabiskan bab pertama dengan menghitung asal usul embrionya kepada pembaca.

Selanjutnya dalam cerita, ketika janin ini di dalam kandungan mencuri dengar percakapan ibunya, dia mendengar rencana pembunuhan yang dibahas oleh ibu dan kekasihnya (paman dari janin) yang ditujukan ke Ayah janin tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya adalah tragedi dimana dalam hal ini janin tersebut, terikat ditempatnya berada dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah perbuatan tersebut. Karya McEwan ini mencoba menceritakan kembali kisah intrik dalam dunia sastra dengan bermain dengan bahasa.

  1. The High Mountains of Portugal oleh Yann Martel

Dalam novel terbarunya, pengarang yang menulis Life of Pi ini mengusung tema kehilangan, patah hati, kesendirian, perjalanan dan penyembuhan. Novel ini terbagi kedalam tiga bagian namun memiliki cerita yang terkait satu sama lain: Bagian pertama menceritakan tentang Tomas yang hidup sendirian di tahun `1904; kedua, tiga dekade setelah itu, menceritakan seorang ahli patologi Eusebio Lozarra, dan yang ketiga bercerita tentang Peter, seorang anggota senat dari Kanada yang pensiun dan pergi ke Portugal (bersama monyetnya). Kisah keanehan dan aspek Phatos (satu dari tiga istilah pilar komunikasi) mengakar dari sebuah konsep yang sulit untuk diterjemahkan yaitu saudade– sesuatu yang dijelaskan oleh Martel sebagai “Bentuk keanehan dari melankolisme orang Portugal”. Menceriakan dan menjanjikan, The High Mountain of Portugal merupakan novel yang ditulis secara cerdas.

  1. Zero K oleh Don Delillo

Tema kreatif yang dipilih oleh Delillo dalam novel terbarunya adalah kematian- misteri dari kematian, mengejar kehidupan yang abadi (atau sebagai “akhir yang tak terlukiskan” seperti yang dikatakan oleh salah satu karakter di novel tersebut) dan hubungan antara kehidupan dan kematian. Berseting tempat di sebuah laboratorium yang suram di Kazakhstan, mengisahkan seorang miliarder yang memiliki visi untuk mengembangkan teknologi kriogenik ke batas puncaknya, dan istrinya yang akan menjadi salah satu pasien pertamanya. Narator novel tersebut ialah putera dari Ross: seorang yang skeptis dan ingin tahu, yang bertanya tentang pertanyaan yang tidak bisa di jawab seperti “Bukankah kematian itu adalah keberkahan?” dan “Seperti apa rasanya mati?” Pertanyaan yang diajukannya sangat menarik, tetapi keindahan novel ini lebih terletak di penggunaan kalimatnya. Delillo menggunakan kalimat berbau ilmu pengetahuan yang sangat pas dengan nuansa dalam novel tersebut. Zero K sangat mengaggumkan, novel yang bercerita tentang ketidakpastian dalam masa depan kemanusiaan.

  1. A Girl in Exile oleh Ismail Kadare

Novel A Girl in Exile karangan Kadare ini pertama kali diterbitkan pada tahun 2009 di Albania, lalu kemudian diterjemahkan serta diterbitkan kembali ke dalam bahasa Inggris pada tahun ini. Didalam novelnya, Kadare- yang lahir di Albania pada tahun 1936 telah menjuarai English PEN dan meraih pengahargaan internasional dari Man Booker- menyuguhkan secara garis besar sebuah tema tentang pengasingan. Perasaan tentang kehilangan dan keterpencilan meliputi novel ini, dimana  setting tempatnya pada era pemerintahan komunis di Albania di era 1980an. Kadare dalam hal ini terlihat jelas menampilkan secara imajiner tentang kehidupanya sendiri di bawah penguasa diktator Enver Hoxha, kemudian membuatnya sangat terbiasa dalam mengilustrasikan secara absurd betapa mengerikannya realitas kehidupan dibawah kuasa kediktaroran.

  1. Shylock Is My Name oleh Howard Jacobson

Setelah Howard Jacobson menyelesaikan novelnya yang berjudul J beberapa tahun lalu, Penerbit Hogarth Press mendatangi dan menawarkannya untuk menulis sebuah kisah dari serial Shakespeare. Setelah menawarkan beberapa judul seperti Hamlet, Macbeth, Coriolanus dsb, Jacobson pun sepakat untuk menulis kembali kisah The Merchant of Venice. Dia merombak ulang drama tersebut menjadi kisah tentang Shylock seorang rentenir dari Venezia, yang terkenal dengan istilah ‘a pound of flesh’ (menghalakan segala cara) untuk orang-orang yang tidak membayar hutangnya diwilayah terkenal akan kemewahannya yakni segitiga emas Cheshire namun dibuat lebih modern.

Tetapi dalam versi ini bukan lantas menggunakan ‘a pound of flesh’, protagonisnya malah mengincar keindahan dari putri-putri para penghutangnya. The Merchant of Venice  sebenarnya salah satu drama yang sulit untuk dimainkan: untuk sebagian orang, Shylock menjadi subjek dari simpati tetapi untuk yang lainya bisa menjadi subjek dari tertawaan dan kontemplasi. (Nazi menyebarkan secara luas drama ini setelah tragedi di Kristallnacht.) namun Jacobson dalam hal ini mampu memainkan kedua subjek itu secara cermat, terkadang tema yang paradoks dalam cerita Shylock dibuat sangat menawan yang penuh dengan nuansa intelek sekaligus lucu dan menghibur.

  1. Hag-Seed oleh Margareth Atwood

Untuk novel terakhir dari serial Shakespeare dari penerbit Hogarth Press, Atwood menulis kembali kisah The Tempest. Drama Shakespeare terkenal dengan menampikan karakter yang sangat hidup, seperti beberapa karakternya yang paling diingat yaitu penyihir Prospero serta Caliban manusia setengah manusia dan setengah hewan buas. Kisah ini pun termasuk diantara drama Shakespeare yang cukup sulit untuk dimengerti, dengan segala kritikannya tentang penafsiran dari kehidupan di kerajaan, potret dari sebuah drama kontemporer, atau hanya sekedar ucapan selamat tinggal dari Shakespear terhadap pertunjukan- atau juga bahkan ketiga hal tersebut terangkum menjadi satu. Novel Atwood ini merefleksikan kisah yang multi peristiwa: Didalam Hag-Seed, Felix Phillips mengambil alih posisi Prospero sebagai Duke dikerajaannya sendiri (Bagi Atwood, theater itu sendiri merupaka sebuah kerajaan yang sebenarnya) dan justru menampilkan Kanada yang modern sebagai latar bukan sebuah pulau antah berantah yang tidak ada di peta. Novel yang menghibur dan penuh dengan imajinasi ini, Atwood menceritakan kembali kisah The Tempest dengan segala hiruk pikuk dalam sebuah drama pertunjukkan.

  1. The Noise of Time oleh Julian Barnes

Tulisan Barnes yang terakhir ini berisi sekitar 180-an halaman mengenai seorang komposer dari Russia Dmitri Shostakovich melewati satu diantara tantangan karir yang harus dilewati oleh setiap composer pada saat itu: pelarangan oleh Stallin. Setelah Pravda menerbitkan review yang kurang diminati yakni sebuah opera 1936 Lady Macbeth of the Mtsensk District – baca tajuk utamanya yaitu“Muddle Instead of Music” dengan peringatan yang cukup sinis, jika Shostakovich tidak segera memperbaiki cara dia bermain, “it might end very badly (akan berakhir dengan buruk)”- Partai Komunis secara terus menerus mencoba mempermalukan Dmitri agar ia patuh. Cerita ini berdasarkan kisah nyata, The Noise of Time memperlihatkan potret yang mendalam tentang seniman yang dibelenggu.

  1. The Sellout oleh Paul Beatty

Novel terbaru dari Beatty berhasi memenangkan penghargaan dari Man Booker Prize, tentunya dengan alasan yang bagus. The Sellout menceritakan sebuah kisah tentang seorang narator tanpa nama kelahiran campuran Afrika-Amerika yang berhadapan dengan ketimpangan hukum berkenaan dengan perbudakan serta rasial di Los Angeles. Berisi kesatiran seperti dalam Catch-22 ( dimana Beatty sendiri mengutip beberapa isi dari bukunya yang lucu dan “abadi”). Pandagan Beatty terhadap Amerika itu sendiri cenderung absurd, tabu, penuh kekerasan, kejam namun sekaligus lucu. Seperti karangan sebelumnya Catch-22, The Sellout memiliki dua hal yang membuatnya menarik yaitu berisi kesatiran namun juga sangat menghibur dan sulit dilupakan.

  1. Eileen oleh Otessa Moshfegh

Moshfegh adalah penulis berdarah Amerika yang membuat namanya melejit setelah berkontribusi lewat tulisannya di majalah sastra The Paris Review. Dengan debutnya (masuk didalam daftar penghargaan Booker Prize) novel yang berjudul Eileen. Moshfegh bercerita tentang seorang wanita muda yang memiliki kegelisahan akut mencoba untuk menjalani hidupnya di sebuah tempat yang sangat kejam “X-Ville”, sebuah perwujudan fiksi dari kota New England. Bentuk penceritaan Moshfegh dalam novel ini terkesan cerdas namun suram. Tergolong dalam jenis eponymous narrator- sinis dan cenderung pesimistis didalam keanti sosialannya – berisi banyak penjelasan dalam mengisahkan tentang orang-orang yang ada disekitarnya, terutama ayahnya yang kejam dan alkoholik membuatnya berfikir tentang pembunuhan. Eileen novel debut yang dibuat cerdas serta memikat.

  1. All That Man Is oleh David Szalay

Novel ini berada dalam daftar penghargaan Man Booker. Szalay menaburkan elemen maskulinitas didalam setiap bentuk penyamaranya. Kurang lebih sama seperti novelnya Martel yaitu The High Mountains of Portugal, novel Szalay ini berisi kisah yang terpisah sebagai cerita pendek. Dibanding harus menceritakan kisah ini dalam satu penceritaan yang menyambung, Szalay memilih untuk untuk menjelaskan “Pria” di setiap tingkat kehidupan cerita yang terpisah: novel ini dimulai dengan sepasang pasangan muda yang miskin dan memiliki kefrustrasian dalam hubungan sexnya kemudian tiba di Berlin, dan ceritanya  berkahir dengan seorang pria tua  yang hidup sendiri di Italia. Setiap cerita tersebut diceritakan dari tempat tempat berbeda di Eropa –London, Berlin, Italy dan Cyprus namun diselimuti oleh kisah kesendirian. All That Man Is  menarik untuk dijadikan pembelajaran tentang seperti apa kaum pria bisa berbuat.

  1. Swing Time oleh Zadie Smith

Ketika berbicara dengan Ian McEwan, Smith mengutip Martin Amis sebagai salah satu inspirasinya (“Bertemu dengan Martin Amis bagiku, diusia 19, seperti bertemu dengan Tuhan.”) Seperti Amis, talenta Smith sebagai penulis terlihat dari kemampuannya untuk memberikan sebuah persepsi yang mampu menunjukkan segala detail terkecil dari karakter atau tempat yang membuat tulisan terkesan sangat meyakinkan.

Swing Time dimulai pada tahun 1980-an di kota London kemudian narator menjelaskan hubungannya satu persatu dengan orang disekitarnya, dimulai dengan ibunya, yang menghabiskan waktunya untuk belajar tentang politik revolusioner; lalu bossnya Aimee, seorang bintang pop asal Australia yang mengarahkan narator untuk mengikuti kehidupan yang flamboyant; dan Tracey, teman yang selalu menemaninya dan berbagi tentang kulit narator yang gelap. Sama seperti debut novelnya yakni White Teeth, novel ini berisi beberapa tema, dari ambisi dan persaingan dari perjuangan seorang gadis dalam kemiskinan. Swing Time merupakan karya yang dibuat dengan mahir yang menampilkan pemikiran yang medalam, humor serta keindahan penceritaan dari Smith yang terkenal.

Kesemua novel diatas memiliki keistemewaanya tersendiri. Zero K nya Don Delillo bisa menarik para pembaca yang menyukai cerita bebau sains-fiksi, dimana novel novel yang lebih memiliki kesan intropeksi terhadap diri seperti Eillen, All That Man Is dan The High Mountain of Portugal beresonansi meditasi diri terhadap pembaca. Novel-novel seperti The Sellout karya Paul Beatty serta Nutshell karya Ian Mcewan memiliki kelebihan dari naratornya yang eksentrik. Sebagian besar isi cerita di The Sellout memiliki bentuk penceritaan narator yang lompat-lompat, membawa pembaca dari satu topik ke topik berikutnya, dari satu tempat ke tempat berikutnya tanpa kita sendiri bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Sama seperti juga dari novel McEwan, mengisahkan kisah hamlet yang penuh unsur filosofis yang layaknya mimpi disiang hari, namun menjadi unsur menariknya novel tersebut. Novel-novel yang memiliki kualitas tinggi ini, menarik sekaligus mengerikan, yang membuatnya memperkaya khazanah sastra di tahun 2016.

 

(Sumber: independent.co.uk)

Comments

comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here